Analisis Iklan Minuman Pocari Sweat Berdasarkan Frankfurt School

0
550
Advertising
Advertising

Analisis Iklan Minuman
Pocari Sweat ( Pokari Suetto) merupakan satu dari minuman ringan & minuman olahraga terpopuler di Jepang, diproduksi oleh Otsuka Pharmaceutical Co, Ltd. Minuman ini pertama kali dijual pada tahun 1980. Di luar Jepang juga dijual pada kawasan Asia Timur, Asia Tenggara & Timur Tengah.

Pocari Sweat mempunyai rasa ringan, relatif ringan, minuman elok berkarbonasi & diiklankan sebagai "minuman pengganti ion dalam tubuh". Memiliki rasa jeruk ringan beserta sedikit sensasi. Bahan komposisinya adalah air, gula, asam sitrat, natrium sitrat, natrium klorida, kalium klorida, kalsium laktat, magnesium karbonat & rasa. Serta dijual dalam bentuk cairan, sanggup dalam bentuk aluminium & botol plastik namun ada juga yang dalam bentuk serbuk. (https://id.wikipedia.org/wiki/Pocari_Sweat )

POCARI SWEAT adalah minuman isotonik sebagai pengganti cairan tubuh yang hilang setiap harinya. Komposisi POCARI SWEAT mirip beserta cairan tubuh beserta kandungan elektrolit yang seimbang, sehingga sanggup diserap lebih cepat & lebih baik dibandingkan air minum biasa, sehingga sanggup mencegah terjadinya kehilangan cairan tubuh  berat. Selain itu, beserta kelebihan tersebut, POCARI SWEAT sanggup mengembalikan cairan tubuh secara menyeluruh sehingga membuat tubuh terasa lebih segar & sehat.

KENAPA KITA PERLU POCARI SWEAT?

Pocari Sweat dibuat menurut penelitian ilmiah, sehingga komposisinya terukur & mirip beserta cairan tubuh. Hal ini juga menyebabkan Pocari Sweat sanggup diserap lebih cepat & lebih baik daripada air biasa.

Karena cepat diserap tubuh, Pocari Sweat cepat menggantikan cairan tubuh yang hilang.

Pocari Sweat tidak mengandung pengawet, pemanis buatan, soda ataupun kafein, sehingga kondusif untuk dikonsumsi.

Minum Pocari Sweat agar cairan tubuh tetap terjaga. POCARI SWEAT minuman isotonik yang kondusif & terukur. (https://www.pocarisweat.co.id)

ANALISIS

Minuman Pocari Sweat semakin gencar menyerbu pasaran beserta kelebihan-kelebihan yang berusaha ditonjolkan. Minuman sendiri sebenarnya ada karena adanya kebutuhan insan akan cairan. Ketika insan haus, maka beliau minum. Ini adalah kebutuhan dasar insan, namun kini ini banyak pilihan-pilihan jenis minuman yang sanggup dikonsumsi. Misalkan, ada minuman isotonik beserta kelebihannya yaitu mengandung ion yangdapat menggantikan cairan tubuh, minuman juz dalam bks, bahkan air putih bks seperti Aqua. Adanya produk-produk ini merupakan hasil dari adanya kebutuhan dasar insan untuk minum di waktu haus.

Iklan Pocari Sweat sendiri berusaha menampilakan gambaran bahwa insan membutuhkan ion untuk menjaga kelembaban kulit, membantu menyembuhkan metabolisme tubuh yang rusak, ion tubuh bisa hilang waktu tidur, berkeringat, juga menangis. Bila ditelusur lebih jauh, sebenarnya kebutuhan dasar kita adalah untuk minum. Sebenarnya cukup beserta air putih atau minuman isotonic yang sanggup dibuat sendiri, misalkan oralit. Air kelapa juga sanggup menjadi pilihan minuman isotonic yang bersifat alami. Pocari Sweat sendiri tak hayal juga sama beserta air putih karena berfungsi sebagai pengganti cairan tubuh yang hilang agar tidak kehilangan cairan tubuh , tetapi orang merasa keduanya mempunyai perbedaan yang signfikan.

American College of Sport Medicine menyatakan untuk mencegah kehilangan cairan tubuh  adalah beserta meminum sekitar setengah liter air 2-3 jam sebelum berolahraga, kemudian minum kembali sekitar 250 ml sekitar 10-20 menit sebelum berolahraga, dan minum 250 ml lagi waktu berolahraga. Untuk yang membutuhkan minuman isotonik, lebih baik untuk meminum oralit sebagai minuman isotonik alami. Oralit sanggup dibuat beserta mencampurkan 900 ml air, ditambah gula 50 gram, garam 1,5 gram & irisan lemon. (https://id.jabunta.com/2011/03/28/minuman-isotonik-alami/ )

Industri budaya merujuk pada prroduk & proses mass culture (Storey, 2009:62). Perusahaan berusaha mencari celah beserta membuat produk yang bisa diterima rakyat. Poduk Pocari Sweat menjadi culture industry ketika minuman ini diterima oleh rakyat sebagai minuman isotonic. Hal ini membuat Pocari Sweat sebagai minuman isotonic menjadi sebuah komoditas. Komoditas ada ketika terjadi perubahan nilai yang dimiliki oleh suatu barang. Dari semula memiliki nilai guna kemudian berubahmenjadi nilai tukar. Orang yang sebenarnya bisa minum air putih biasa, air kelapa, atau oralit yang bisa dibuat sendiri, tetapi akhirnyakarena iklan kita jadi merasa kita butuh minuman isotonic. Disinilah terjadi false need, dimana sesuatu yang sebenarnya tidak kita butuhkan atau hanya berupa keinginan berubah menjadikebutuhan yang harus dipenuhi. Sebuah produk mendoktrin, memanipulasi, mengembangkan kesadaran palsu yang menjadi gaya hidup (way of life). (Storey, 2009:63)

Komoditifikasi merupakan penurunan nilai budaya orisinil beserta membuat budaya tersebut menjadi komoditas yang sanggup dijual. (Storey, 2009:64) Komoditas adalah hasil produksi yang mempunyai nilai guna, nilai tukar, & pesaing.Pesaing-pesaing Pocari Sweat ada beserta menawarkan minuman isotonic beserta aneka macam merk seperti Mizone, Vitazone, Isotonic, dll. Commodity fetishism terjadi ketika orang merasa harus membeli minuman isotonic beserta merek Pocari Sweat diantara banyak pilihan atau pesaing yang lain. Commodity fetishism adalah pemujaan terhadap benda produksi. Orang membeli bukan didasarkan pada nilai guna tetapi menurut status yang akan diperoleh ketika membeli barang tersebut. Hal ini membaut orang merasa harus membeli beserta merk atau brand tertentu.

Tidak seperti hasil kebudayaan orisinil yang dibuat beserta sungguh-sungguh tidak hanya didasarkan pada motif uang, produk budaya popular tidak memiliki detail spesifik yang membuat mereka berbeda satu beserta yang lain. Dalam buku Cultural Theory and Popular Culture yang ditulis oleh John Storey juga disebutkan bahwa bagian lagu produk budaya populer sanggup ditukar satu sama lain, tanpa memberikan perbedaan yang berarti. Andorno menyatakan bahwa jika suatu lyrik atau lagu terbukti berhasil di rakyat, maka lirik tersebut akan membentuk standarisasi bagi lirik & lagu yang lain (Storey, 2009: 64).

Iklan Pocari Sweat memberikan suatu standarisasi tersendiri, berupa pemikiran bahwa tubuh selalu kehilangan cairan yang tidak sanggup digantikan oleh air biasa. Dibutuhkan cairan isotonik spesifik yang sanggup menggantikan cairan tersebut, sehingga kita sanggup tetap melakukan segala kegiatan beserta lancar. Kesuksesan Pocari Sweat juga telah menjadikan timbulnya standarisasi bagi minuman isotonik lain seperti Mizone, Vitazone, Powerade Isotonik, Optima Sweat dst. Semua minuman tersebut menawarkan minuman yang mengandung cairan serupa beserta cairan tubuh sehingga sanggup membangkitkan tenaga atau semangat dalam beraktifitas. Hal ini menerangkan terjadinya homogenitas seperti disebutkan Storey (2009:62) bahwa industri budaya ditandai oleh 2 hal yakni homogenitas & prediktabilitas.

Iklan Pocari Sweat juga terstandarisasi dalam hal isi iklan tersebut. pocari memiliki target pasar yakni anak-anak muda, olahragawan yang panda intinya minuman ini tidak hanya ditujukan bagi orang sakit. Sebab sebagian besar rakyat masih beranggapan bahwa minuman isotonik hanya dibutuhkan oleh mereka yang sedang sakit. Oleh karena itu iklan-iklan Pocari selalu menampilkan anak-anak muda yang sehat & aktif. Pocari juga mengusung JKT 48 sebagai icon prodak mereka. Sebab JKT 48 kemungkinan besar dirasa cukup sanggup merepresentasikan anak muda yang aktif & sehat. Mereka ditampilkan sebagai sosok anak muda yang catik penuh semangat dan aktif. Icon-icon lain juga merepresentasikan hal yang serupa. Pesan yang disampaikanpun terperinci yakni minuman tersebut ditujukan sebagai pengganti cairan tubuh yang hilang setelah beraktifitas.

Standarisasi ini berkaitan erat beserta pseudo-individualization yakni hasil dari standarisasi produk budaya popular yang menjadikan konsumen sejalan beserta pemberi pesan. Pseudo-individualization dalam hal ini menjaga setiap orang agar tetap dijalan yang sama beserta membuat mereka lupa bahwa mereka telah diperdengarkan apa yang kemudian diperdengarkan kepada mereka (Storey, 2009: 67). Dalam iklan Pocari orang lupa bahwa juga telah melihat banyak produl atau iklan serupa. Setiap kali mereka melihat iklan Pocari, banyak yang merasa iklan tersebut berbeda beserta iklan yang telah mereka lihat sebelumnya. Padahal Pocarimemiliki banyak sekali iklan. Mereka sering membarui iklan yang telah beredar di rakyat & menyesuaikannya beserta keinginan pasar atau budaya seperti apa yang tengah tenar dimasyarakat & sanggup mereka gunakan dalam iklan.

Referensi:

https://id.jabunta.com/2011/03/28/minuman-isotonik-alami/

https://www.pocarisweat.co.id

Storey, John. 2009. Cultural Theory and Popular Culture.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here