Advertising
Advertising

Asal Kamu Tahu,
GENGSI, emang cuma sebuah tutur. Tapi auranya cetar membahana.

Hari ini hingga esok, gengsi kan merasuk ke dalam sirkulasi darah poly manusia. Berapa poly orang hidup demi gengsi?

Ya gengsi. Kata poly orang gengsi itu kehormatan, martabat. Pantas kalo poly orang berebut, ingin meraih "gengsi". Kerenn banget sih si gengsi

Sayang, poly orang tidak tahu arti gengsi. GENGSI itu kemunafikan yang tertunda. Kenapa? Karena kita "berusaha" menahan keinginan atau apapun agar orang tidak tahu. Gengsi, sekali lagi gengsi

Kamu, aku dan semua orang pasti punya gengsi. Cuma ukurannya yang beda. Ada yang gengsinya akbar, timbul yang gengsinya kecil. Tapi pada dasarnya, gengsi bukan sikap yang keren. Gengsi lebih dekat pada arogansi, sok. Ngegedein gengsi, amanah aja hasilnya cuma RUGI.

Terus, kalo anda udah punya GENGSI, apa untungnya?

Jujur lagi nih, gak timbul untungnya punya gengsi. Karena hidup tidak diukur dari gengsi kita. Kalo umur kita sudah tua, buat apa bilang masih belia. Kalo cinta, ngapain cuma ngeliatin doang; kenapa gak bilang cinta. Kalo ekonominya pas-pasan, buat apa gayanya mirip perum peruri. Punya GENGSI itu rugi. Serem gak sih, ngegedein gengsi. Sungguh penyakit mental yang berbahaya. Gengsi

GENGSI. Ini cerita pada negeri lain. Gara-gara gengsi, Si Ibu A ngebela-belain beli smartphone yang mahal. Pake kartu kredit, abis itu gak mampu bayar. Uang sekolah anaknya juga belum dibayar udah 4 bulan. Gaji suaminya gak seberapa, tapi cukup untuk makan sebulan. Hari ini, Si Ibu A masih tetap tersenyum dan tampil berkelas. Ibu yang Bergengsi, tutur poly orang.

GENGSI, emang menyeramkan. Bikin poly orang tidak apa adanya. Bikin hidup penuh kamuflase alias semu. Bikin orang gak mampu jadi maksain diri.

Bikin kita jadi doyan berbohong. Bikin gaya hidup jadi gak bener. Bikin yang primer jadi kalah ama yang tersier. Bikin anak-anak kita jadi ikut-ikutan gak bener. Lagi-lagi, gengsi sungguh menyeramkkan.

Ahhh, masak sih sampe segitunya ngebelain gengsi?

Syukurlah kalo kita eling. Tapi coba lihat aja ke Starbucks. Di situ kita beli kopi apa beli gengsi?

Kalo beli kopi, pada warung kopi pinggir jalan juga gak masalah. Kan semua kopi diseduh pake air panas dari dalam termos. Lha kan kita nyari daerah ngopi yang nyaman? Kalo nyari daerah yang nyaman gak masalah. Asal jangan bilang gak bisa ngopi pada daerah yang gak bergengsi. Atau izin keliatan, ngopinya lebih berkelas .. itu namanya gengsi hehe.

Gengsi kan buat harga diri kita juga?

Kata siapa. Harga diri beserta gengsi itu beda. Harga diri itu basisnya kesadaran akan apa yang kita miliki. Kalo gengsi, basisnya gila kehormatan atau gila martabat. Ketika harga diri kita kokoh maka gengsi akan inheren beserta sendirinya.

Tapi jangan dibalik, menjual harga diri demi gengsi. Apalagi sampe berani mengorbankan harga diri hanya untuk hal-hal yang sepele. Pusing kan anda? Sama dong, aku juga pusing.

Gengsi itu gak enak dimakan. Tapi poly orang tewas-matian memburu gengsi. Berani melakukan apa saja, demi gengsi. Luar biasa ya. Wajar kalo sekarang, poly orang bertikai demi kekuasaan, bertengkar untuk popularitas, bertindak melawan hukum, atau berperilaku amoral. Semuanya terjadi alasannya mengejar GENGSI.

Kalo tutur agama, urusan gengsi itu bukan urusan supaya dihargai orang. Bukan soal kasta sosial yang kamuflase. Tapi gengsi ialah tidak meminta-minta kepada selain Allah. Itu baru keren, gengsi hanya demi Allah.

Jadi kita harus gimana dong?

Ya gak gimana-gimana. Kita cuma perlu mawas diri aja terhadap penyakit gengsi. Karena gede gengsi itu membahayakan pemiliknya. Hiduplah apa adanya, gak usah poly gengsi. Kita tidak hidup dari gengsi, tapi dari Allah.

Emang sih, bukannya gak boleh hidup punya gengsi. Sah-sah aja. Tapi jangan hidup malah bergantung pada gengsi. Karena gengsi gak timbul positifnya. Gengsi itu kemunafikan yang tertunda. Itu saja. Lagi juga, kasihan aja sama orang yang hidupnya ngegedin gengsi. RUGI banget deh hidup modal gengsi alasannya:

1. Peluang yang timbul jadi kabur

2. Repot alasannya ulah sendiri

3. Bikin jadi penakut

4. Bikin nekat dan menghalalkan segala cara

5. Pikiran gak hening

6. Suka menghibur diri beserta cara yang keliru

7. Selalu menyalahkan diri sendiri

8. Cenderung menghindari masalah

9. Gak foksu, gak konsentrasi

10. Gak mau terima saran

11. Suka mendramatisir masalah

12. Menyalahkan keadaan

13. Suka mengeluh

14. Emosional

15. Cuek yang cenderung negatif

Sahabat, mumpung masih timbul waktu. Sudahlah, stop gengsi. gak usah cari kehormatan lewat gengsi. Biarkan kehormatan datang sendiri dari ikhtiar kta, dari apa yang kita perbuat. Kalo tutur orang bjak, "Look at the situation from all angles, and you will become more open Lihatlah situasi dari semua sudut, dan kita akan menjadi lebih terbuka."

Oke, gak perlu lagi kita modal gengsi. Karena GENGSI BUKAN HARGA DIRI.

Sahabat, Hidup kita ialah pesawat kita. Kita yang jadi pilotnya. Istri dan anak-anak kita jadi co-pilotnya. Orang lain pada kurang lebih kita hanya penumpang saja. Ada yang pada kelas ekonomi, kelas urusan ekonomi, atau kelas eksekutif. Kalo kita gak senang sama hidup kita, maka silakan turun dari pesawat . simpel kan? Karena kita tidak makan gengsi, tidak butuh gengsi.

#BelajarDariOrangGoblok.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here