Bagaimana Kebijakan Ekonomi dan Politik Era Jokowi
Jakarta, Kamis, 24 Juni 2016 tepatnya pukul 14.00 bertempat pada lantai 28 Gedung MNC Tower diadakan diskusi terbatas dengan tema Review Kebijakan Ekonomi & Politik Indonesia Saat Ini. Pada diskusi terbatas ini mengundang beberapa wartawan & netizen, dengan narasumber yang tentunya memiliki kapasitas yang baik pada bidangnya masing-masing. 

Dibidang Ekonomi terdapat Prof. Dr. FX Sugiyanto beliau ialah Guru Besar Ekonomi pada Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Diponegoro. Prof. Firmanzah, Ph.D.  beliau ialah mantan staf khusus bidang ekonomi pada pemerintahan SBY-Boediono & saat ini menjabat sebagai rektor Universitas Paramadina. Di bidang politik terdapat : Dr. Ahmad Taufan Damanik, beliau ialah dosen FISIP Universitas Sumatera Utara. Dr. M. Alfan Alfian, beliau ialah dosen FISIPP Universitas Nasional. Andi Ali Said Akbar, M.A, beliau juga dosen pada FISIP Universitas Jenderal Soedirman. Menghadirkan juga pembicara utama pada diskusi ini Bapak Hary Tanoesoedibjo, beliau ialah CEO Media Nusantara Citra (MNC) Group & Ketua Umum DPP Partai Persatuan Indonesia (Perindo). Dimoderatori oleh  Dimas Okky Nugroho, Ph.D.

Kondisi Ekonomi Indonesia Saat Ini

Indikator Pembangunan Indonesia saat ini dari Prof Dr Soegiyanto  terus mengalami penurunan sehingga terjadi kesenjangan & ketimpangan yang relatif tinggi pada rakyat, kesenjangan & ketimpangan ini ditentukan oleh partisaspi pendidikan rakyat yang tidak merata, indikator lainnya ekspor kita yang terus menurun, serta neraca perdagangan migas yang juga terus mengalami deficit.

Problem kita saat ini ialah kemiskinan yang sudah mulai tampak pada Indonesia bagian Timur mirip pada Papua, padahal mirip yang kita ketahui bahwa Sumber Daya Alam Papua begitu melimpah & beberapa kawasan pada luar Jakarta, sedangkan pada wilayah Jakarta ini sendiri terjadi ketimpangan sosial sehingga terlihat yang kaya makin kaya & yang miskin tambah miskin.  

Hal senada juga pada katakan oleh Prof Firmanzah Ph.D bahwa saat ini pemerintah tidak fokus pada core bisnisnya yaitu pengentasan kemiskinan, pemerintah saat ini hanya fokus pada pembangunan infrastruktur, indikasinya saat ini pada dalam APBN banyak program pengentasan kemiskinan ditiadakan. Seharusnya dunia swasta perlu diberikan peran dalam pembangunan infrastruktur, sehingga postur APBN lebih banyak untuk program kesejahteraan rakyat.

Tantangan kedepan pemerintah saat ini juga ialah dengan menjaga stabilitas pasar keuangan & fiskal agar tetap terkendali, disamping itu juga pemerintah wajib mewaspadai perlambatan ekonomi Tiongkok yang akan berpengaruh terhadap Indonesia. Menurut analisa perlambatan daya beli diperkirakan akan terjadi pada semester kedua, efek asal perlambatan daya beli ini tentunya terhadap PDB kita. Apabila perlambatan ekonomi ini terjadi tentunya ekstensi bisnis akan berkurang & tidak adanya ekstensi lapangan pekerjaan yang tersedia.

Pemerintah saat ini juga terlalu muluk menargetkan pertumbuhan ekonomi, padahal untuk mencapai nomor pertumbuhan 4,2 persen saja itu sudah indah. Rilis kemarin penerimaan Negara sampai 10 juni saja baru 27% masih jauh asal target. Apabila ini tidak segera diantisipasi maka kesenjangan sosial & kemiskinan akan bertambah untuk itu solusi nya ialah dengan memotong aturan (cut budget) pada APBN dengan memprioritaskan program pengentasan kemiskinan, pendidikan & kesehatan dibandingkan dengan program infrastruktur.

Kondisi Politik Indonesia Saat Ini

Mengenai paparan kondisi politik Indonesia Dr Taufan Damanik mendeskripsikan situasi demokrasi Indonesia saat ini masih sarat dengan politik uang & politik oligarky, sehingga membajak sistem kepartaian & pemilu yang berakibat pada rendahnya partisipasi rakyat terhadap pemilu. Politik oligarky ini juga menghambat asas kesetaraan hal ini ditimbulkan lantaran Negara hanya melayani pemilik modal bukan rakyat. Di sisi lain, perlindungan terhadap HAM saat ini kurang serius mendapatkan perhatian pemerintah ditandai dengan banyaknya kekerasan antar rakyat yang terjadi mengatasnamakan SARA.

Lain lagi dengan paparan bapak Andi Ali Said Akbar, MA, yang menjadi persoalan pemerintah saat ini ialah politik aturan. Politik aturan selama ini bertumpu pada size atau ukuran. Kewenangan yang tumpang tindih antara institusi pemerintah, misalnya saja disetiap kementrian terdapat aturan pengentasan kemiskinan yang kemudian banyak insitutsi yang menjual data tersebut untuk mengakses dana alokasi khusus. Hal ini berakibat adanya praktek ekonomi & politik masih memberlakukan politik rente.

Dr.M. Alfian, yang menarik asal politik saat ini ialah populisme politik Indonesia, sejak keluarnya Jokowi menjadi presiden. Populisme Jokowi pada masa kampanye mengutamakan pembangunan infrastruktur lantaran memang gampang dipandang. Populisme politik ini tidak hanya terdapat pada Indonesia, pada Eropa & Inggris pun terjadi. Ciri populisme kini memang kondisinya yang menang merangkul semua. Beberapa faktor yg mempengaruhi analisis kekuatan politik : Partai Politik, Civil Society, Militer, Polisi, Media, Pengusaha.

Paparan Bapak Harry TanoeSoedibjo

Pandangan Perspektif Harry TanoeSoedibjo terjun ke politik lantaran beliau merasa Indonesia masih berputar-putar terus , masih belum mencapai kehidupan yg lebih baik. 

Padahal sebenarnya tujuan akhir negara ialah mencapai kemakmuran untuk seluruh rakyat Indonesia, tapi saat ini untuk mencapai kesejahteraan rakyat itu masih terlihat jauh mirip Kesenjangan sosial semakin tinggi, yang kaya semakin kaya & yang miskin semakin miskin. asal keprihatinan itulah beliau memiliki pemikiran bagaimana Indonesia makmur dalam waktu cepat keliru satunya dengan cara memproduktifkan kelas menengah untuk mendorong membuka lapangan pekerjaan & membantu mereka yang produktif untuk segera naik kelas.

Untuk mempercepat kemajuan & kemakmuran secara cepat ini, sudah saatnya pemerintah segera mengambil peran mensinergikan semua sumber daya yang terdapat, & tentunya mewujudkan nawa cita yang telah dikampanyekan oleh Jokowi saat masa kampanye.

Salam Kompasiana

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here