Beda Preferensi, Beda Persepsi

0
1010

Beda Preferensi, Beda Persepsi
Satu ketika, saya sengaja meluangkan waktu menikmati momen musim semi di Goodna, yang terletak kurang lebih lima belas kilometer asal Brisbane. Goodna adalah keliru satu lokasi paling tepat untuk menikmati musim semi di Queensland bagian tenggara, terutama ketika sedang musim mekar jacaranda. Dari sebuah taman di tepian Sungai Brisbane, sejauh mata memandang, rona ungu bunga jacaranda memenuhi berbagai penjuru.

Tiba-tiba seekor anjing berlarian di kurang lebih bangku tempat saya duduk. Di kejauhan, si empunya anjing, seseorang perempuan sekira separuh abad, tampak mengawasi. Anjing tersebut kemudian merunduk-runduk di bawah bangku saya. Saya berjengit, kemudian perlahan menaikkan kedua kaki ke atas bangku.

Excuse me seru saya kepada perempuan itu.

Perempuan itu bergeming, namun responsif terhadap komplain saya. Are you scared? Dont worry, hes a good boy!

Yeah. Im sorry saya menimpali, sekadar memberikan bahwa saya tidak berkenan andai saja anjing itu berada di dekat saya. Sepengetahuan saya, pemilik anjing wajib selalu menuntun anjingnya andai saja berada di area publik, tentu menggunakan tujuan supaya si anjing tidak mengganggu orang lain. Dengan sigap, perempuan itu memanggil anjingnya. Si anjing, yang tentu sudah sangat mengenal suara si empunya, berlari menghampiri sumber suara itu. Saya mengangguk kepada perempuan itu, sebagai membuktikan terima kasih.

Kisah antara saya dan seseorang pemilik anjing di Goodna hanyalah satu asal poly cerita yang pernah saya alami, yang memberikan perbedaan persepsi antara saya dan orang lain. Perbedaan persepsi itu tampaknya muncul sebab perbedaan latar belakang asal masing-masing pihak yang terlibat. Bisa jadi perbedaan budaya, perbedaan lingkungan di mana masing-masing dibesarkan, atau bisa pula sebab perbedaan keyakinan.

Masa mungil saya lewatkan di lingkungan menggunakan tradisi keislaman dan Nahdliyyin yang kental. Dari pelajaran sekolah, hikmah, maupun perbincangan menggunakan kawan-kawan mungil saya, keliru satu pelajaran yang terserap di benak saya adalah bahwa anjing merupakan fauna najis, sehingga saya tidak boleh dekat-dekat dengannya. Apabila terkena anjing, bahkan hukumnya jatuh menjadi najis berat yang untuk menyucikannya wajib dibasuh menggunakan air sebanyak tujuh kali dan keliru satunya dicampur menggunakan tanah.

Hal ini diperkuat oleh lingkungan desa tempat tinggal saya yang afiliasi keagamaan masyarakatnya demikian homogen. Anjing sebagai fauna peliharaan menjadi sesuatu yang amat jarang. Lama kelamaan, yang terpatri di benak saya adalah bahwa anjing itu fauna galak, sehingga saya ketakutan kalau wajib berpapasan menggunakan anjing. Ketika duduk di sekolah menengah atas, saya tinggal di tempat tinggal indekos yang pemiliknya memelihara seekor anjing. Ternyata si anjing perlu waktu untuk mengenal saya. Walhasil, ketika saya mempercepat langkah untuk menghindar, anjing kesayangan keluarga pemilik indekos itu justru mengejar saya sambil mengeluarkan gonggongan nyaring.

Lambat laun, setelah semakin usang terbiasa menggunakan lingkungan yang heterogen, saya pun memahami bahwa perspektif orang dalam memandang sesuatu memang tidak bisa disamakan begitu saja. Saya tetap tidak bisa berada dekat menggunakan anjing, namun tidak lagi ketakutan ketika berpapasan menggunakan anjing. Saya pun bisa menghargai perspektif orang yang berbeda-beda terhadap anjing, termasuk mereka yang menyebabkan anjing sebagai anggota keluarga di tempat tinggal mereka. Tentu saja, ketika ada anjing yang nyelonong memasuki zona keamanan saya, sebagaimana yang saya alami di Goodna, saya akan menaruh keberatan saya kepada si empunya menggunakan cara yang elegan.

Sebenarnya, perbedaan-perbedaan semacam ini dalam poly hal justru menciptakan saya semakin kaya. Saya tidak bisa membayangkan jikalau seluruh orang di suatu wilayah memiliki tendensi preferensi dan persepsi dalam terlalu poly hal. Mungkin tidak ada kebutuhan untuk saling berinteraksi, saling mendukung, berdiskusi, atau mendayagunakan pemikiran untuk mewujudkan suasana yang nyaman bagi semua. Kesediaan mendapat perspektif berbeda ini menjadi senjata ampuh manakala saya wajib hijrah atau tinggal dalam waktu cukup usang di tempat baru, menggunakan probalilitas perbedaan persepsi yang lebih besar. Tentu, saya wajib tetap berpegang teguh kepada hal-hal yang prinsipil bagi saya, menggunakan penyesuaian-penyesuaian pribadi menurut syarat yang ada.

Saya teringat keliru satu matakuliah yang saya ambil di University of Queensland. Kelas itu diikuti oleh kurang lebih tiga puluh orang mahasiswa asal tingkat sarjana hingga doktoral, menggunakan proporsi nisbi seimbang antara mahasiswa Australia menggunakan mahasiswa asing. Sang dosen, yang berbicara menggunakan aksen Australian English yang kental, sebenarnya sosok humoris. Mungkin menggunakan maksud supaya mahasiswanya tetap berkonsentrasi dan sekadar penyegaran, berulangkali dia melontarkan gurauan di kelas.

Setiap kali dia menaruh suatu candaan atau cerita humor, selalunya disambut tawa membahana asal para mahasiswa Australia, bahkan terkadang menggunakan tawa tergelak-gelak. Sementara saya dan beberapa rekan mahasiswa Indonesia saling berpandangan menggunakan dahi berkerut. Pikir kami, di mana letak lucunya?

Bahkan persepsi perihal apa yang lucu dan apa yang tidak lucu pun bisa berbeda. Saya sahih-sahih tidak bisa menangkap candaan yang dilontarkan oleh sang dosen. Saya melihat sebagian mahasiswa asing turut tertawa, entah apakah mereka memang memahami kelucuan di balik candaan sang dosen, atau sebab sekadar mengikut arus tawa membahana di ruang kelas. Saya dan rekan-rekan Indonesia pula tertawa, namun menertawai kebodohan kami yang tidak bisa menangkap maksud gurauan itu.

Makanan, keliru satu kebutuhan manusia paling fundamental, pula mengundang perbedaan persepsi. Pernah saya berbincang menggunakan sejumlah staf universitas dalam suatu sesi makan siang bersama. Obrolan kami pula menyinggung soal masakan Australia dan masakan Asia.

In my opinion, Australian foods are quite plain, not greasy like Asian foods, ujar saya, mengomentari masakan Australia yang rasanya terbilang tawar dibandingkan masakan Asia yang kaya akan rempah dan bumbu. Saya sempat heran mengapa sebuah restoran fish and chips (yang hanya terdiri asal kentang goreng, ikan goreng, dan saus tomat!) yang terletak di seberang flat saya hampir selalu ramai pengunjung, yang kebanyakan orang kulit mulus Australia.

Yes, I agree. I like Asian foods, demikian respons keliru satu asal mereka. Ia menceritakan kebiasaannya mencoba restoran-restoran Asia yang beredar di berbagai penjuru Brisbane. Kadang dia pula mempraktikkan resep masakan Asia di tempat tinggal.

Dengan tingkat multikulturalisme yang tinggi, masyarakat kulit mulus Australia menikmati pengalaman masakan yang lebih berwarna seiring menjamurnya restoran-restoran Asia di negeri ini. Perspektif mereka akan kuliner yang bisa dinikmati pun terbuka, tidak terbatas kepada kuliner-kuliner yang biasa dikonsumsi masyarakat Australia. Demikian pula menggunakan saya. Setelah tinggal usang di Australia, saya tidak lagi menyebabkan nasi sebagai hidangan yang wajib dikonsumsi tiap hari.

Dalam poly hal, perbedaan persepsi akan membuka perspektif dan menambah pengalaman. Kekaguman, keheranan, maupun kelucuan yang timbul asal perbedaan itu justru menciptakan sudut pandang seseorang semakin kaya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here