Belajar Ekonomi Lokal di Pasar Tradisional
Mengunjungi pasar tradisional? Apa bagusnya. Begitu mungkin reaksi orang kebanyakan. Becek, kotor, bau, sesak, berantakan, riuh. Siapa yang tahan?

Siapa yang tahan? Banyak. Terbukti pasar-pasar tradisional kepada kota-kota kecamatan & kabupaten kepada Jawa & Luar Jawa yang pernah aku kunjungi selalu ramai. Berarti poly yang tahan, bukan?

Saya artinya satu berasal poly orang yang betah berlama-lama mengitari & mengamati pasar tradisional. Sering tidak membeli apapun. Hanya berkeliling mengamati. Lalu kembali bersama sebuah pengetahuan baru.

Pengetahuan baru? Begitulah. Saya akan coba jelaskan secara singkat.

Bika kita berkeliling pasar-pasar tradisional kepada kota-kota kecamatan mirip, & sebaiknya kepada hari pasar besar, kita akan temukan rapikan-letak yang sepola. Lazimnya pasar tradisional terbagi atas  dua lokasi besar, yaitu bagian masakan & non-masakan.

Lokasi masakan masih terbagi tiga. Ada lokasi masakan basah (daging, ikan segar), semi-basah (sayuran, buah-buahan, bumbu segar, dll.), & kemarau (biji-bijian, telur, bumbu kemarau, gula, garam, dll.).

Sedangkan lokasi non-masakan terdiri berasal bagian sandang (busana, kain, alas kaki, tutup kepala, dll), perabot rumahtangga (peralatan masak, indera pembersih, wadah, lampu, dll.),  perlengkapan sekolah ( buku tulis, indera tulis, tas sekolah, dll), & peralatan kerja (pertanian, pertukangan, kantoran, dll.).

Pengetahuan pertama yang tertentu diperoleh berasal berkeliling pasar tradisional artinya potensi ekonomi lokal. Pada bagian pasar masakan mirip dapat diketahui jenis-jenis akibat bumi pokok yang diperjual-belikan. Berdasar itu maka dapat dibentuk kesimpulan sementara wacana struktur ekonomi pertanian setempat.  

Begitulah, bersama berkeliling pasar tradisional kepada Kabupaten Kerinci, segera kita memahami tempat itu artinya sentra kayu elok. Dengan berkeliling kepada pasar tradisional Kabupaten Ende, segera kita memahami tempat itu pembuat kacang mete. Dengan berkeliling pasar tradisional kepada Gayo NAD, kita dapat memahami tempat itu pembuat kopi.

Pengetahuan ke 2 artinya wacana pertukaran komoditas antar desa kepada tempat. Yang paling menonjol artinya pertukaran komoditas antara desa pantai & desa gunung. Warga  gunung membeli ikan yang dijual warga pantai. Sebaliknya warga pantai membeli sayuran & buah-buahan yang dijual warga pantai. Pertukaran semacam ini dapat disaksikan mirip kepada pasar tradisional Balige, Toba-Samosir.

Selanjutnya dapat diamati gejala penetrasi produk kota yang berusaha mematikan produk desa. Di pasar tradisional Tigaraja, Simalungun akhir 1960-an hingga awal 1970-an aku dapat mengamati penetrasi produk-produk berbahan dasar plastik. Ember plastik menggusur penguasaan ember kaleng. Keranjang plastik menggeser penguasaan  keranjang rotan. Piring & cangkir plastik menjadi cara lain piring & cangkir kaleng. Terpal plastik menggeser penguasaan tikar pandan atau mendong. Kue-kudapan manis kalengan menyaingi kudapan manis-kudapan manis tradisional.

Di pasar tradisional jua dapat disaksikan penetrasi kota ke desa kepada bidang mode busana. Berkeliling los-los busana dapat dicermati produk-produk busana bermodel "kota" dipajang mencolok. Misalnya busana anak bersama motif karakter anime modern, & busana remaja bersama contoh yang biasa dikenakan artis-artis ibukota.

Sejatinya, kepada pasar tradisional kita dapat saksikan ko-keberadaan  dua cara produksi yaitu kapitalisme industri kota & komersialisme pertanian desa. Saya senang menyaksikan bagaimana liatnya komersialisme pertanian desa. Sehingga kapitalisme industri kota tidak pernah berhasil melindas habis komersialisme pertanian. Keranjang rotan, keranjang bambu, tikar pandan, tikar mendong, tikar rotan, & kudapan manis-kudapan manis kampung (cenil, tiwul, gethuk, lupis, onde-onde, dll.) masih bertahan kepada pasar-pasar tradisional.  Bahkan sekarang mulai bersinar lagi, seiring bersama merebaknya gerakan "go green" atau "back to nature".

Singkatnya, berkeliling pasar tradisional memberi kita pengetahuan wacana sejarah ekonomi setempat, dinamika ekonomi lokal, kontak kapitalisme bersama komersialisme, & relung-relung survival ekonomi masyarakat. Harapan tambahan pengetahuan wacana berbagai aspek itu membuat aku tidak bosan-bosannya mengunjungi pasar tradisional, setiap kali timbul kesempatan.

Apa yang sudah aku sampaikan sebenarnya artinya pengamatan pasar sebagai keliru satu metode penelitian kualitatif untuk studi sejarah & dinamika ekonomi lokal. Mengunjungi pasar tradisional artinya belajar ekonomi lokal. Mudah-mudahan artikel ini tidak menggurui.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here