Advertising
Advertising

Belanja iklan TV
Pengaruh perlambatan ekonomi pada 2015, berdampak juga terhadap penurunan belanja iklan TV. Hal itu berdasarkan data sumber Adstensity 2015, pada mana pada tahun 2014 lalu pendapatan iklan TV menembus Rp 99 Triliun. Namun tahun ini hanya mencapai Rp 72,lima triliun.

"Artinya belanja iklan TV 2015 terjadi penurunan sebanyak 26,7 % dibanding tahun lalu," ujar CEO PT Sigi Kaca Pariwara, Sapto Anggoro dalam keterangannya, Selasa (lima/1).

Sebelumnya, pihaknya juga sudah mengutarakan dikala November lalu perihal adanya penurunan pendapatan iklan TV yang jauh meleset sumber yang ditargetkan oleh Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI). PPPI pernah memprediksikan belanja iklan TV nasional buat tahun 2015 mencapai Rp 113,lima triliun. Dengan data riil 2015, sasaran belanja iklan TV hanya tercapai 63,8 %.

Penyebab sumber penurunan belanja iklan bisa jadi karena memburuknya kurs tukar rupiah terhadap dolar Amerika pada 2015 lalu. Akibatnya, sebagian besar industri terpaksa menghemat belanja iklan mereka. Hal ini nampak pada industri otomotif yang paling terpengaruh bareng situasi ini.

Sebaliknya kondisi itu tidak berlaku pada industri e-commerce/digital business (online store) yang justru mencuat pada 2015. Industri yang nisbi baru berkembang pada Indonesia ini masuk dalam 10 Top Industri 2015. Total belanja iklan mereka mencapai Rp 1.792.654.180.000 atau berkontribusi sebanyak 2,47 % terhadap total belanja iklan TV 2015.

Sedangkan industri otomotif terdapat pada peringkat 10 bareng total belanja iklan Rp 1.774.396.270.000 atau hanya menyumbang 2,45 %. Di luar itu, industri-industri yang terlanjur mapan mirip Beverage, Personal Care, & Refined Food masih merajai penyumbang belanja iklan TV terbesar pada Indonesia.

Sekadar informasi, Adstensity artinya nama produk buat perangkat/perangkat lunak ads TV monitoring yang dikembangkan oleh PT Sigi Kaca Pariwara. Aplikasi ini memantau kegiatan penyiaran, khususnya penayangan iklan TVC/ads spot pada 13 TV berskala nasional & melakukan penghitungan kualitatif secara otomatis sebagai akibatnya dinamika penayangan iklan TVC bisa diketahui secara real time. Baik itu sumber sisi frekuensi tayang, belanja iklan, atau distribusi/sebaran penayangan iklan. [lar]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here