Berkarya Tapi Penghasilan Minus Sama Saja, Om

0
358
Advertising
Advertising

Berkarya Tapi Penghasilan Minus Sama Saja, Om
Selasa (7 Juli 2015) kemarin kami KPMS (Komunitas Penulis Muda Situbondo) mengadakan acara launching buku antologi cerpen Dermaga Patah Hati. Antologi cerpen yang ditulis oleh 14 penulis yang berasal dari Situbondo mempunyai tema-tema yang unik.

Seperti cerpen Mas Sufi yang berjudul Kyai serta Raja Bandit yang menceritakan kisah Kiyai Asad, kemudian Mas Yudik yang menceritakan tentang peristiwa pembakaran gereja pada daerah Situbondo beberapa tahun silam (maaf, tidak bermaksud menyinggung hal tersebut bagi yang kurang berkenan). Dan cerita-cerita lain yang sanggup dibaca sendiri.

Kehadiran antologi ini membuat dahaga akan karya anak belia yang benar-benar berasal dari daerah sendiri cukup terobati, mengingat selama ini, budaya konsumtif begitu menggelora pada dalam dada. Sedang, pada daerah sendiri terdapat pembaca tanpa mengetahui apabila terdapat penulis-penulis.

Selain, itu KPMS sebagai wadah dari 14 penulis antologi ini membuat teman-teman sanggup menumpahkan karyanya. Entah, motivasi tulisannya yang terang berbeda-beda. Tapi, dibalik itu semua. Karya nyata anak belia ini patut diancungi jempol.

Namun, baru-baru ini saya membuka suatu kelompok. Ada suatu komentar yang cukup menyelip dalam hati. Komentar tersebut saya jadikan tulisan ini, Berkarya tapi penghasilan minus, sama saja, Om? katanya. Mari, kita luruskan terlebih dahulu.

Penulis sanggup menjadi pekerjaan atau hanya selingan diantara rutinitas kita. Begitu banyak penulis yang benar-benar waktunya habis untuk menulis (selain traveler, serta lain-lain. Maksud tulisan ini tidak mempunyai pekerjaan lain seperti pengajar, dosen, serta sebagainya). Namun, terdapat pula penulis yang menulis tanpa meninggalkan pekerjaan utama.

Sejatinya, menjadi seorang penulis itu sanggup kita niatkan sebagai suatu ibadah. Insya Allah, Allah akan mempermudah usaha kita. Bukankah apabila kita mengejar dunia, dunia yang akan kita dapat. Tapi, apabila kita mengejar akhirat, insya Allah dunia-akhirat kita dapat.

Nah, sehubungan bersama pekerjaan penulis. kita sanggup menjadi penulis yang berdakwah serta berjihad bersama cara yang berbeda yakni melalui tulisan kita, karya kita. Terlepas, apa karya kita dilirik oleh penerbit atau media. Bukankah itu urusan pada belakang. Yang terpenting kita telah mencoba menulis. Insya Allah, apabila jalannya akan dipermudah oleh-Nya.

Di dunia ini tidak terdapat yang instan, bahkan sekalipun mie instan saja. masih butuh proses. Prosesnya itu, air didihkan terlebih dahulu, bumbu-bumbu diletakkan pada piring, serta menunggu beberapa menit dulu untuk siap kita makan. Lalu, bagaimana bersama kesuksesan. Tentu, butuh waktu serta usaha. Toh, tidak terdapat yang akan terjadi yang mengkhianati usaha.

Bahkan penulis yang karyanya telah diangkat oleh beberapa PH film saja. pernah dilecehkan oleh senior SMA-nya. Siapa dia? Asma Nadia. Tidak percaya, silakan baca No Excuse! Karya Isa Alamsyah. Atau, butuh contoh lain. Mari kita lihat, Andrea Hirata yang ditolak beberapa kali, sebelum novel Laskar Pelangi terbit serta difilmkan.

Butuh contoh lagi, ayo kita lihat JK Rowling. Tidak tahu? Silakan cek sendiri pada Google tentang usaha dia menjadi penulis sebelum karyanya yang menjadi INTERNASIONAL BEST SELLER itu difilmkan. Lalu, bagaimana menyikapi judul tulisan ini?

Silakan jawab sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here