Di Balik MeriahnyaColor Run di Budaya Kita

0
289
Advertising
Advertising

Di Balik MeriahnyaColor Run di Budaya Kita
Memang dibalik semua itu kini ini melihat perkembangan zaman ini orang-orang tentu dapat mengakses internet lebih praktis & berita apa saja bisa pribadi diakses. Untuk itu kini ini dalam Indonesia lagi sedang Booming dengan kata color run. Perkembangan kata color run adalah meniru kebudayaan bangsa India yang lalu dimodifikasi & pertama kali diselenggarakan dalam Januari 2012 dalam Tempe, Arizona, Amerika Serikat. Dan Singapura buat pertama kali diadakan program color run ini Asia.

Color Run adalah sebuah kegiatan berlari atau jalan sehat sejauh 5km (lima kilometer) dengan ditaburi serbuk warna-warni yang akan menyambut peserta setiap melewati satu kilometernya. Lalu dalam sesi closing party para peserta akan diberikan sebuah serbuk warna-warni yang akan dilemparkan bersamaan waktu peserta joget dengan-sama dengan diiringi musik lengkap DJ (Disc Jockey) & disemprotkannya air dalam waktu peserta joget buat menambah kemeriahan color run tadi.

Color Run sumber pertama kali timbul dalam Amerika tahun 2012 mengalami lonjakan peserta yang sangat signifikan. Dibuktikan dalam tahun 2013 peserta mencapai satu juta insan dalam seluruh belahan dunia. Merupakan jumlah yang sangat akbar melihat program ini adalah program lari-lari non-profesional yang berbayar.

Color Run ini telah menjadi sebuah budaya buat pemuda-pemudi masa kini, & budaya ini hanya terkenal dalam masyarakat terkini. Atau acapkali masyarakat menyebutnya menjadi Pop Culture. Budaya yang senantiasa lahir dalam tengah-tengah kehidupan insan yang sangat konsumtif.

Sebagai insan yang sangat konsumtif hal ini menjadi sasaran yang menggiurkan oleh para kapitalis & pengusaha dalam membuat sebuah proyek misal dengan menyasar agar masyarakat yang haus akan musim masa kini yang menjadi sebuah barang wajar. Jika kita lebih kritis, hal ini sebuah proyek akbar yang hanya akan menguntungkan para elit penguasa, yakni para penyelenggara. Bukan hal yang susah bagi para elit kapitalis buat menciptakan ketergantungan barang produksi & budaya. Sudah menjadi misteri awam bahwa dominan masyarakat bangsa kita adalah masyarakat yang konsumtif. Salah satu bukti mutlaknya adalah mewabahnya budaya baru Color Run ini.

Media sosial menjadi faktor pendukung utama mewabahnya budaya ini. Dengan berlari-lari kecil bahkan jauh sumber makna olahraga sekalipun, berfoto dengan, & lalu mengabadikannya dalam media sosial. Hal ini menimbulkan efek domino terhadap masyarakat penikmat yang konsumtif serupa. Mereka akan acapkali membicarakannya & cenderung berusaha mengikuti program ini. Karena sebuah budaya tren bila hal ini pastinya akan menjadi pemicu munculnya bisnis dalam rangka mempertinggi keberadaan dalam berteman. Didalam masyarakat konsumtif akan sangat menyukai tren yang sedang booming agar mereka dilihat mengikuti mode atau tidak kampungan. Hal ini menjadi ketergantungan dalam masyarakat konsumtif. Mungkin andai kata budaya ini timbul dahulu kala, beberapa dekade kebelakang, yang mana masyarakat kita masih menjunjung tinggi nilai-nilai budaya & ciri-ciri bangsa, konsep program hura-hura misalnya ini akan susah buat menembus budaya bangsa kita.

Kita paham bahwa era zaman kini dunia sedang memandang bangsa Barat adalah zaman peradaban yang paling maju. Maka, kita menjadi bangsa berkembang yang dalam fase dalam bawah bangsa Barat akan selalu cenderung berusaha buat mengikutinya tanpa melihat bahwa budaya itu dari atau tidak dalam budaya asli bangsa kita. Diharapkan kita menjadi generasi muda bangsa bisa mengendalikan efek budaya asing. Walaupun hal ini bukanlah hal baru dalam masyarakat, akan tetapi masyarakat terbukti cenderung susah buat membentengi diri. Dengan bersikap kritis diharapkan masyarakat bisa menciptakan budaya sendiri yang dari dengan ciri-ciri bangsa Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here