Ditunggu, Resep Masakan Lezat Tanpa Bawang Merah, Bawang Putih serta Cabe

0
789

Ditunggu, Resep Masakan Lezat Tanpa Bawang Merah, Bawang Putih serta Cabe
Meroketnya harga ketiga komoditi bawang merah, bawang putih dab cabai buat yg kesekian kalinya, seolah menampar wajah pemerintah yg makin karut marut. Lagi-lagi pemerintah menunjukkan ketidakberdayaannya menghadapi oknum-oknum pedagang, tengkulak, importir jua oknum birokrat yg terkait bareng wewenang pengaturan ketiga komoditi tersebut. Alih-alih mencari solusi, yg terjadi justru antara pemerintah serta importir saling menyalahkan serta melempar tanggung jawab. Sementara ditingkat pedagang serta tengkulak sibuk mencari alibi bareng menyalahkan alam, mulai berasal faktor cuaca nir baik, panen gagal, distribusi terhambat dsb. Jujur, rakyat telah bosan bareng alasan klasik yg nir lagi seksi apalagi lucu !

Adalah keliru akbar jikalau pemerintah menganggap krisis ketiga komoditi ini nir krusial. Kenyataannya hal ini telah menimbulkan akibat sosial ekonomi yg cukup signifikan. Namun yg lebih membahayakan artinya semakin bebasnya oknum-oknum pedagang, tengkulak importir dsb buat mempermainkan harga bareng mencari-cari alibi semaunya. Mereka telah semakin yakin bahwa pemerintah nir akan sanggup berbuat apa-apa, selain mendiskusikan serta menghimbau. Rendahnya moralitas pedagang yg hanya mementingkan keuntungan eksklusif sangat didukung sang sikap masyarakat yg sangat labil menghadapi perilaku oknum-oknum yg memanfaatkan psykologis konsumen, gampang panik, gampang terprovokasi serta sifat konsumerisme. Untuk menaikkan harga komoditi, sekarang oknum pedagang nir lagi menunggu momentum hari raya Idul Fitri, natal, Tahun Baru ataupun kenaikan gaji PNS. Cukup bareng memproduksi alibi, cuaca nir baik atau kegagalan panen, seluruh akan beres. Mereka yakin toh pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian nir mempunyai data akurat wacana produksi bawang merah, bawang putih atau cabai. Kementerian ini nir mempunyai peta-peta loka yg sebagai lumbung ketiga komoditas ini serta mendukung hukum buat memproduksinya. Demikian jua Kementerian Perdagangan nir pernah dapat mengontrol arus import jua data kuota impor yg terang atas ketiga komoditi ini. Wajar kalau lalu banyak importir yg memainkan data buat mengeruk keuntungan berasal krisis misalnya ini. Apalagi kementerian Koperasi serta UKM, tidak pernah terdapat fakta mengenai pengembangan koperasi pertanian buat membantu petani pada ketiga komoditi ini. Singkat istilah, petani dibiarkan terjun bebas serta layu pada negeri agraris, sungguh ironis…!

Kini masyarakat dibiarkan buat mengatasi krisis bawang putih, bawang merah serta cabai sendirian sembari menunggu pemerintah saling berdebat. Celakanya, budaya konsumerisme masyarakat telah terlanjur mengakar, sebagai akibatnya sekedar buat mengurangi rasa pedas pada masakannya pun sulit. Padahal kekuatan terbesar berasal masyarakat buat melawan kerakusan pedangan artinya bareng "puasa" atau setidaknya mengurangi konsumsi ketiga komoditas tersebut. Daya tahan Bawang Putih serta bawang Merah nir akan lebih berasal satu bulan, sedangkan dalam waktu seminggu cabai akan membusuk. Oleh alasannya adalah itu jikalau masyarakat kompak buat mengurangi konsumsi ketiga komoditas ini, niscaya pedagang akan merugi serta kembali menurunkan harga bareng alibi "pasokan telah lancar" atau "cuaca telah membaik". Kini saatnya masyarakat nir lagi bergantung pada pemerintah yg menderita autis akut terhadap penderitaan warganya. Krisis ini layak buat dijadikan buat mengembangkan resep masakan tradisional Indonesia yg yummy tanpa bawang merah, bawang putih serta cabai.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here