Dokter dan Media Sebaiknya Tahu Hal Ini!

0
436
Advertising
Advertising

Dokter dan Media Sebaiknya Tahu Hal Ini!

Sebuah iklan butuh gengsi supaya produknya mempunyai daya pikat jual. Tak sporadis digunakan pernyataan testimoni menurut konsumen dan tenaga ahli guna meyakinkan halayak. Maka sering dijumpai terdapat dokter yang memberi pernyataan dalam sebuah iklan obat, susu, produk kesehatan rumah tangga, hingga obat nyamuk. Konsumen membeli sebuah produk sebab merasa itulah produk yang diperlukan. Dari mana konsumen itu memahami produk itu diperlukan? Karena terdapat seorang dokter yang mendukung produk yang dimaksud dan beriklan didalamnya.

Tenaga ahli seperti dokter walaupun nir mencantumkan gelar akademiknya, rakyat telah mengetahui bahwa yang berkata iklan tersebut ialah seorang dokter. Sebab terdapat jua dokter yang berprofesi ganda menjadi seniman atau dokter yang sering tampil dalam media menjadi nara asal. Saat dokter beriklan inilah profesianalisme mereka dipertaruhkan sebab terdapat peraturan yang mengikat mereka buat nir beriklan selain dalam iklan layanan rakyat. Bukan hanya atribut seseorang tenaga profesi kesehatan saja yang nir diperbolehkan ditampilkan dalam sebuah iklan. Segala bentuk pengaturan yang menampakkan latar seperti laboratorium jua nir diperkenankan. Semuanya diatur demi melindungi konsumen.

Tercatat laporan problem/pelanggaran yang dirancang oleh Badan Pengawas Periklanan Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (BPP P3I) semenjak Januari 2009 hingga Oktober 2011 terdapat 20 problem yang berkaitan dengan pemeran iklan tenaga profesional. Pemeran iklan yang paling poly disorot ialah tokoh/tenaga kesehatan. Iklan yang dimaksud mulai menurut susu, perbekalan kesehatan rumah tangga, obat-obatan, hingga produk pestisida rumah tangga. Berikut daftarnya:

Minyak goreng Sunco versi Lebih Bening Pasti Lebih Sehat
Dancow versi 1+
Betadine versi Sahur & Berbuka dr. Sonia
Sensodyne versi Konsultasi Kesehatan Gigi
Nutricia versi Fosgos
Tolak Angin versi Pos Sehat
Minuman berserat Rollas versi Halte Busway
SGM 3dan4 Growing Milk versi Korporat
Pepsodent versi Gigi Sensitif
Hit Aerosol versi Lula Kamal Hamil
Advetorial/inforial Menteri Kehutanan terkait Newmont Nusa Tenggara
Lifebuoy Handwash versi Mother Holding Child
Dettol Pedoman Sehat IDIversi Cuci Tangan & Mandi
Oral B versi Pro Health
Flyer Colgate-Hypermart versi Promo 17-29 Maret 2011
Sabun Lifebuoy versi Donni Demam
Kiranti Minuman Haid versi Pakar Herbal
Dettol versi Anjuran Cuci Tangan
Anmum versi Less Sugar
Listerine Mouthwash versi Simposium-PDGI

Etika Pariwara Indonesia (Tata Krama dan Tata Cara Periklanan Indonesia) memuat ketentuan pemeran iklan khususnya tenaga profesional:

Iklan produk obat-obatan (baik obat-obatan bebas maupun tradisional), indera-indera kesehatan, kosmetika, perbekalan kesehatan rumah-tangga serta kuliner dan minuman nir boleh memakai tenaga profesional, identitas, atau segala atribut profesi, baik secara terang maupun tersamar.
Iklan yang mengandung atau berkaitan dengan profesi eksklusif harus mematuhi kode etik profesi tersebut.

Ketentuan tadi mengacu dalam SK Menteri Kesehatan RI No. 386/Menkes/SK/IV/1994 Tentang Pedoman Periklanan Obat Bebas, Obat Tradisional, Alat Kesehatan, Kosmetika, Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga, Makanan-Minuman, disebutkan bahwa iklan nir diperankan oleh tenaga profesi kesehatan memakai "setting" yang beratribut profesi kesehatan dan laboratorium.

Aturan lainnya jua dituang dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1787/Menkes/Per/XII/2010 tentang Iklan dan Publikasi Pelayanan Kesehatan dalam pasal 8 disebutkan:

Tenaga kesehatan dihentikan mengiklankan atau menjadi contoh iklan obat, indera kesehatan, perbekalan kesehatan, dan fasilitas pelayanan kesehatan kecuali dalam iklan layanan rakyat.
Tenaga kesehatan sanggup melakukan publikasi atas pelayanan kesehatan dan penelitian kesehatan dalam majalah atau lembaga ilmiah buat lingkungan profesi.

Pelanggaran terhadap peraturan ini diperingatkan dalam pasal 14. Disebutkan dilakukan pembinaan dan pengawasan berupa penghentian iklan selama 7 hari kerja, bila nir jua dilakukan perubahan maka akan dilakukan tindakan administratif paling lama 30 hari kerja. Tindakan administratif berupa pencabutan surat biar operasional/surat biar kerja/surat biar profesi buat sebentar paling lama 1 tahun dan sanggup hingga buat selamanya.

Di mana tanggung jawab media dan biro iklan yang memuat iklan-iklan yang bermasalah? Media dan biro iklan dalam hal ini menjadi pelaku perjuangan mengikuti UU Perlindungan Konsumen No. 8 Tahun 1999. Pada pasal 17 dinyatakan: "Pelaku perjuangan periklanan dihentikan memproduksi iklan yang melanggar etika dan/atau ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai periklanan". Pada pasal 20 disebutkan: "Pelaku perjuangan periklanan bertanggung jawab atas iklan yang diproduksi dan segala yang akan terjadi yang ditimbulkan iklan tersebut". Pelanggaran terhadap aturan etika dimuat dalam pasal 62 berupa pidana penjara paling lama dua tahun atau pidana hukuman paling poly 500 juta rupiah.

Dalam UU itu jua dijelaskan pelaku perjuangan ialah perseorangan atau badan perjuangan, baik yang berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam tempat hukum negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun bareng-sama melalui perjanjian menyelenggarakan kegiatan perjuangan dalam berbagai bidang ekonomi.

Sumber: Etika Pariwara Indonesia Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1787/Menkes/Per/XII/2010 Laporan Kasus BPP P3I 2009-2011 UU RI No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here