Eling; Semua Titipan Allah

0
501
Advertising
Advertising

Eling; Semua Titipan Allah
Biar kita kehilangan sesuatu alasannya Allah, asal kita tidak kehilangan Allah alasannya sesuatu.

Itulah kalimat bijak & penuh pesan yg tersirat. Penuh makna & bisa menjadi renungan kita. Momentum buat kita introspeksi diri. Agar kita senantias berdoa buat yg terbaik, berpikir lebih positif menurut hari ini. Lalu, pasrah sembari tetap istiqomah di jalan Allah SWT. Karena apalagi yg bisa kita perbuat, selain ikhtiar & berserah kepada-Nya. Anda, aku, kita & yg muncul di kurang lebih kita, HANYA titipan Allah

Cobaan & ujian bisa datang kapan saja, tanpa kita minta tanpa bisa ditolak.
Musibah bisa silih berganti datangnya, apalagi kalau bukan buat menguatkan kita.
Senang & bahagia, bisa datang buat menghibur kita kkarean tidak muncul duka yg kekal.

Semuanya, di dekat kita, akan & bisa datang silih berganti. Siang akan berganti malam, duka berganti suka, sesal berganti bahagia, & seterusnya. Semua muncul dalam hayati kita & sudah menjadi suratan Takdir-Nya

Apa artinya buat kita?

Artinya, di dunia ini memang tidak muncul yg kekal. Hanya Allah SWT yg kekal. Semuanya titipan Allah. Segala yg kita miliki terlalu gampang buat tanggal menurut genggaman. Cepat atau lambat, orang-orang yg kita cintai, harta kekayaan & segala yg kita miliki tiba-tiba akan berkurang atau hilang.

Tak pernah kita sangka, tiba-tiba galat satu anggota famili yg kita cintai meninggal dunia. Apalagi pangkat & jabatan yg kita sandang, terlalu gampang buat hilang. Itulah misteri hayati & dapat menimpa siapa saja.

Semuanya hanya titipan Allah. Termasuk anak, istri, suami kita. Begitu jua harta, pangkat & jabatan. Sekadar titipan sekaligus amanah buat kita. Tidak muncul yg kekal di dunia ini. Semuanya titipan Allah. Tinggal kita mau merenunginya atau tidak?

Ya, hanya titipan Allah. Seperti yg sehari-hari dialami tukang parkir.
Di huma parkir, banyak sekali merek tunggangan beroda empat atau motor datang menghampirinya. Dari yg mahal hingga yg murah. Dari yg masih mulus hingga yg sudah penyok. Sesaat saja, tukang parkir bisa menguasai puluhan atau ratusan tunggangan. Ingat, buat beberapa ketika saja.

Setelah itu, ketika sore tiba, ketika malam datang. Semua tunggangan pergi & diambil balik  sang pemiliknya. Si tukang parker tak punya apa-apa, sendiri lagi. Sepi tiada yg dipunya. Karena semua hanya titipan semata.

Tapi hebatnya, si tukang parkir tak pernah mengeluh. Tugasnya menjaa ketika beliau punya, & membiarkkan yg dijaganya pergi. Karena semua hanya titipan. Si tukang parkir tak pernah berat hati ketika tunggangan-tunggangan itu diambil balik  sang pemiliknya. Dia tidak pernah menolak. Atau protes sekalipun kepada sang pemilik. Karena si tukang parkir sadar. Ia mengerti, semua tunggangan itu hanya titipan. Sekali lagi, hanyalah titipan !

Dulu, ketika kita lahir, tidak sehelai benangpun kita bawa. Kita memang bukan siapa-siapa. Tak bisa melakukan apapun selain menangis. Mengucurkan air mata.

Lalu, Allah menitipkan rezeki-Nya kepada kita. Melalui air susu Ibu, tenaga kita tercukupi & bisa bertahan hayati. Allah berikan busana, selimut, minyak kayu putih, air, & sebagainya. Kebutuhan kita menjadi terpenuhi. Hingga akhirnya, kita bisa sebanyak ini, semampu sekarang. Tidak lain, itu semua alasannya kemurahan Allah.

Sudah cukupkah?
Belum. Allah masih karuniakan kita lagi banyak sekali perhiasan dunia. Kita diberi pasangan & anak-anak. Harta yg agak atau melimpah. Kita dititipkan pangkat, jabatan, jua nama baik di mata insan lainnya. Sekali lagi, itu semua berkat kemurahan Allah.

Sekali lagi, kita makin sadar setiap apa yg kita miliki ialah titipan Allah. Sepatutnya, menjadi pihak yg dititipi kita harus menjaga titipan bareng amanah. Walau kita tahu, tidak sedikit insan yg menyia-nyiakan titipan Allah. Karena terdapat orang tua yg menelantarkan anaknya. Masih muncul orang kaya yg bersuka ria dalam kemaksiatan. Masih banyak menurut kita yg berfoya-foya dalam kecukupannya

Asal kita eling saja.
Sungguh, semua yg kita miliki ialah titipan Allah. Pasangan hayati ialah titipan, bimbinglah di jalan Allah. Anak-anak ialah titipan, didiklah di jalan Allah. Harta jua titipan, gunakanlah buat kebaikan di jalan Allah. Pangkat atau jabatan ialah titipan, embanlah bareng amanah, amanah & bertanggung jawab. Agar semuanya menjadi ibadah kita.

Semua yg kita miliki ialah titipan Allah. Tak perlu tinggi hati. Tak perlu sombong. Anak-anak yg lucu & pandai. Pasangan yg berparas cantik. Rumah yg megah. Pangkat atau jabatan tinggi. Harta kekayaan yg berlimpah. Semua itu ialah titipan. Semua itu amanah supaya kita bisa mengelolanya buat menggapai ridho Allah. Amanah buat merengkuh jalan keselamatan, bukan jalan penyesalan.

Hidup ini bisa jadi pelajaran berharga. Tentang, semua yg kita miliki ialah titipan Allah. Sehingga, jangan muncul lagi ucapan menurut mulut kita, Ya Allah, kenapa harus aku yg diuji? Mengapa Engkau tidak kabulkan doaku?. Semoga kita tidak termasuk golongan yg berprasangka buruk dalam ketetapan Allah. Tidak menyalahkan siapapun. Tapi tetap tabah & istiqomah menjalani hayati.

Hidup ialah keniscayaan terhadap sunnah Allah. Bergantinya tahun, berpindahnya satu waktu ke waktu yg lain adalah evolusi perkara demi perkara, ujian demi ujian. Maka kita, dalam keadaan apapun, berkenan atau tidak berkenan, senang atau tidak senang, kita harus tetap cinta kepada Allah. Allah ialah pemilik semesta alam, termasuk pemilik kita.

Hidup memang penuh warna-warni, Ada suka, muncul duka. Ada tawa, muncul tangis. Tidak satu pun insan di dunia ini yg merasa bahagia melulu tanpa sedih. Tak muncul jua orang yg sedih melulu tanpa muncul bahagia. Itu sudah menjadi hukum Allah. Dan setiap kita sudah punya episode kehidupan masing-masing. Jadi, duduk perkara bukan terletak dalam masalahnya, akan akan tetapi dalam sikap kita terhadap suatu perkara.

Ada pepatah, bila air di gelas tumpah, abaikan pikiran & hati tak tenggelam dalam kesedihan yg berlarut. Karena semua terjadi didasarkan  bareng ketetapan Allah. Kita perlu kuatkan pikiran & hati. Agar kita lebih tabah & selalu ikhtiar di jalan Allah. Sebagai hamba-Nya, apa yg menjadi jatah kita pasti Allah berikan. Tapi apa yg memang bukan jatah kita, Allah pasti tidak akan berikan. Meski dia nyaris menghampiri kita, tewas-matian kita mengusahakannya, percayalah dia tidak akan bisa kita miliki jikalau memang bukan jatah kita.

Maka, setiap duduk perkara hayati patut kita sikapi bareng baik. Kita semua butuh pikiran, mental, & hati yg luas. Hati yg jembar buat mengalahkan samudera duduk perkara hayati di dunia. Memang, seolah kamuflase. Tapi, kita patut merenungkannya. Sambil menilik sikap yg mungkin terlalu tak sporadis kita lupakan selama hayati. Apa itu?

1. Hati yg selalu siap dalam mendapat apapaun yg terjadi.
dua. Tetap tulus jikalau apapaun sudah terjadi.
tiga. Tak perlu berptus keinginan, apalagi mengeluh.
4. Tetap introspeksi diri.
lima. Bersandar hanya kepada Allah.

Kita, tak perlu bersandar ke selain Allah. Agar tak takut sandarannya hilang. Istri yg bersandar kepada suami, takut kehilangan suaminya. Karyawan yg bersandar kepada loka kerja, takut kehilangan pekerjaannya.

Buat aku, buat sahabat, ayo tanamkan dalam hati & pikiran kita, kemudian katakan, Semua hanya titipan Allah. Biar kita kehilangan sesuatu alasannya Allah, asal kita tidak kehilangan Allah alasannya sesuatu. #YukEling

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here