Enam asosiasi internet kecam iklan terselubung Telkomsel & XL

0
1891
Advertising
Advertising

Enam asosiasi internet
Munculnya intrusive advertising atau iklan terselubung pada situs internet yang dilakukan operator Telkomsel dan XL Axiata dipercaya sangat mengganggu pengguna dan pemilik situs. Enam asosiasi internet serempak mengecam adanya intrusive advertising tersebut.

Enam asosiasi itu artinya Indonesian E-comerce Association (IdEA), Indonesian Digital Association (IDA), Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI), Association of Asia Pacific Advertaising Media (AAPAM) dan Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I).

Ketua umum IdEA, Daniel Tumiwa menyebutkan adanya iklan terselubung itu selain mengganggu, pemilik situs jua dirugikan. Dia bahkan menyebut hal itu adalah pembajakan.

"Sangat mengganggu bisnis kita pada dunia internet. Menurut kami sesi ini dibajak," istilah Daniel saat jumpa pers pada Hotel Grand Kemang, Jakarta, Rabu (24/9).

Daniel menambahkan, meski sudah menerima lebih 15 ribu menandakan tangan dalam petisi pada change.org dan 84 situs berbadan hukum menolak, akan tetapi belum terdapat tanggapan konkret sumber Telkomsel dan XL Axiata.

"Kami pernah menanyakan tentang ini (kepada Telkomsel dan XL), jawabannya 'terserah, kita memasang pada layanan kita'," ungkapnya.

Selain itu, Ketua Umum IDA, Edi Taslim menyampaikan, adanya iklan pengganggu ini perlu diketahui warga luas. Terlebih, pihaknya yang beranggotakan 16 perusahaan media online tidak bisa lagi berbuat poly.

"Kami merasa ini harus diekspose ke warga. Sebagai pemilik media online kami tidak bisa mengontrol lagi (iklan terselubung)," istilah Edi.

Senada beserta 2 rekannya, Sekretaris Jenderal APJII, Sapto Anggoro menuding bahwa Telkomsel dan XL Axiata sudah melanggar rapikan kelola internet. Sebab, mereka sudah melakukan kecurangan dalam memasang iklan terselubungnya.

"APJII melihat ini pelanggaran etika rapikan kelola internet. Secara etis, XL dan Telkom nir dibenarkan. Bahwa mereka sudah melakukan kesamaan kecurangan hingga kejahatan," terang Sapto yang jua COO merdeka.com tersebut.

Sapto menambahkan, poly kerugian yang dialami pengguna fasilitas internet. Selain itu, para pemilik konten sudah niscaya mengalami kerugian.

"Pertama yang dirugikan artinya pengguna, karena sudah membayar paketnya. Tapi pas hingga rumahnya (situs yang dituju) ditutup iklan (intrusive advertising). Itu tentu merugikan orang yang sudah bayar. Kedua, yakni pemilik konten. Ini kan misalnya beliau (pemilik konten) kan memiliki tempat tinggal, terus terdapat orang sudah ketok pintu kok nggak masuk-masuk, ternyata terhalang iklan. Rugi kan," terangnya.

Sapto bahkan menyebut sumber iklan terselubung itu, Telkomsel dan XL sudah mengambil keuntungan tanpa mengeluarkan modal. "Lebih jahat lagi, itu terdapat nilai ekonomisnya. Itu kan sama saja kaya ngutil (mencuri)," ungkapnya.

Keseluruhan asosiasi itu jua sudah mendesak pemerintah buat segera meregulasi iklan terselubung itu. Sebab, hal itu demi terciptanya iklim usaha yang kondusif.

Intrusive advertising adalah iklan tanpa kejelasan. Biasanya hal itu bisa dipandang saat membuka internet via smartphone. Iklan itu umumnya berbentuk pada banner atas situs (off deck) atau bahkan full satu halaman pada halaman depan (Interstitial Ads). [war]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here