Etika Pariwara Indonesia Etika Penunjang Estetika Moral Anak Bangsa.

0
268
Advertising
Advertising

Etika Pariwara Indonesia
Di era kemajuan teknologi ketika ini, saya merasa mirip tidak bisa bisa tanggal dari media. Tidak hanya saya, tua, muda, remaja dan anak-anak pun mau tidak mau diterpa oleh begitu poly isu setiap harinya. Baik isu yg memang kita inginkan, maupun tidak. Hampir sebagian akbar dari isu yg saya dapat ialah ihwal berbagai produk ataupun jasa yg dipasarkan di media-media tadi. Sehingga saya menyadari bahwa ketika ini persaingan produk di pasar semakin kuat dan sengit. Semakin poly produk baru yg ada dan berlomba-lomba dipasarkan ke konsumennya. Begitu juga dengan produk lama yg tidak mau kalah, terus memperbaharui dan mempertahankan positioning produknya. Sebagai keliru satu bagian dari bauran kenaikan pangkat, iklan atau advertising menjadi keliru satu media yg dipercaya efektif buat meyakinkan hati para konsumen dan menghadapi persaingan tadi.

Menurut Gilson & Berkman (1980) Iklan merupakan media komunikasi persuasif yg didesain buat menghasilkan respon dan membantu tercapainya objektifitas atau tujuan pemasaran. Setiap iklan sesungguhnya ditujukkan buat merebut hati sebuah sasaran khalayak tertentu yg atau yg biasa dikenal dengan target audience. Setiap produk memiliki target yg bhineka mulai dari demografis maupun psikografisnya. Fakta menarik yg saya amati ialah bahwa ketika ini iklan tidak hanya ditujukkan buat orang dewasa saja, namun tanpa kita sadari anak-anak sekarang sudah menjadi sasaran yg potensial bagi para pengiklan. Hal tadi disebabkan alasannya adalah ketika ini anak-anak sudah memiliki impak yg nisbi kuat pada proses pengambilan keputusan dalam sebuah famili. Meskipun pengetahuannya terbatas, di masa ini pendapat anak mulai di dengarkan dan diperhitungkan. Sehingga anak sanggup menjadi influencer bagi orang tuanya. Tidak mirip jaman dahulu, sekarang anak tidak lagi wajib menjadi pribadi yg pasif dalam famili. Namun, bisa menjadi penghasil keputusan (decision maker) atas suatu pilihan,terutama dalam soal pembelian.

Oleh alasannya adalah itulah, ketika ini semakin poly produk yg menyasar anak-anak menjadi targetnya. Baik produk yg memang diperuntukkan bagi anak-anak, hingga produk yg sebenarnya tidak diperuntukkan bagi anak-anak. Anak-anak dengan segala kepolosannya begitu gampang terpengaruh atas tayangan yg menarik di televisi dan langsung ingin membeli produk tadi. Tidak hanya menjadi target Audience saja, Saat ini semakin poly juga iklan yg memakai anak-anak menjadi tokoh pokok buat memasarkan produknya. Hal tersebutlah yg patut kita cermati. Kepolosan dan kelucuan anak kecil seringkali dipakai buat menarik hati orang-orang dewasa. Dan faktanya, Iklan yg menampilkan figur anak-anak memang selalu menarik buat di lihat bukan?

Namun bila kita jangan lupa kembali akan hakikat anak, anak ialah individu yg rentan secara psikologis, alasannya adalah memiliki pengalaman yg terbatas, yg memengaruhi pemahamannya mengenai global (Depkes RI, 2000). Oleh alasannya adalah itu, anak-anak begitu gampang mempercayai dan menirukan sesuatu yg dilihatnya. Apa yg dia lihat dan dia amati dari lingkungannya akan memengaruhi perubahan perilakunya kelak, sehingga masa kanak-kanak menjadi masa yg sangat krusial bagi pembentukan kepribadian mereka di masa mendatang. Hal tadi berkaitan dengan apa yg diungkapkan dalam teori komunikasi yaitu Social Learning Theory bahwa seorang individu belajar dari apa yg dia baca, dengar, dan lihat di media, serta dari orang lain dan lingkungannnya, dan penonton menirukan apa yg mereka lihat di televisi melalui proses observational learning. Sudah semestinya kitasebagai orang dewasa melindungi anak-anak dari contoh yg buruk dan mengajarkan nilai-nilai moral atau etika yg berlaku di warga melalui tayangan yg berkualitas.

Namun, beruntunglah negeri ini alasannya adalah kita masih memiliki etika yg mengatur periklanan di Indonesia. Aturan-aturan tadi tercantum dalam Etika Pariwara Indonesia (EPI) yg merupakan ketentuan-ketentuan normatif yg menyangkut profesi dan bisnis periklanan yg sudah disepakati buat dihormati, ditaati, dan ditegakkan oleh semua asosiasi dan forum pengembannya(EPI,2007). Etika pariwara memiliki kiprah yg sangat krusial dalam melindungi konsumen Indonesia, terutama dalam hal ini khalayak anak. Melalui EPI, setiap pengiklan memiliki panduan dan landasan yg bisa dijadikan acuan demi menciptakan tayangan iklan yg berkualitas bagi anak bangsa. Di dalamnya, tercantum etika yg melindungi hak-hak anak dan keselamatannya dalam tayangan sebuah iklan mirip yg tercantum pada pasal 1.27 dan pasal 3.1 dibawah ini:

1.27 Khalayak Anak-anak

1.27.1  Iklan yg ditujukan kepada khalayak anak-anak dihentikan menampilkan hal-hal yg dapat mengganggu atau merusak jasmani dan rohani mereka, memanfaatkan kemudahpercayaan, kekurangpengalaman, atau kepolosan mereka.

1.27.2  Film iklan yg ditujukan kepada, atau tampil pada segmen waktu siaran khalayak anak-anak dan menampilkan adegan kekerasan, aktivitas seksual, bahasa yg tidak pantas, dan atau obrolan yg sulit wajib mencantumkan kata-kata Bimbingan Orangtua atau simbol yg bermakna sama.

3. Pemeran Iklan

3.1 Anak-anak

3.1.1  Anak-anak dihentikan dipakai buat mengiklankan produk yg tidak layak dikonsumsi oleh anak-anak, tanpa didampingi orang dewasa.

3.1.2  Iklan dihentikan menampakan anak-anak dalam adegan- adegan yg berbahaya, menyesatkan atau tidak pantas dilakukan oleh anak-anak.

3.1.3  Iklan dihentikan menampilkan anak-anak menjadi promotor bagi penggunaan suatu produk yg bukan buat anak-anak.

3.1.4  Iklan dihentikan menampilkan adegan yg mengeksploitasi daya rengek (pester power) anak-anak dengan maksud memaksa para orang tua buat mengabulkan permintaan anak- anak mereka akan produk terkait.

Melalui pasal-pasal tadi, EPI dengan dengan peraturan lainnya mirip Undang-Undang (UU) proteksi anak dan UU proteksi konsumen serta UU penyiaran saling bersinergi buat menghadirkan tayangan-tayangan iklan yg baik bagi perkembangan anak. EPI juga memperlihatkan peringatan kepada beberapa Iklan yg sudah melanggar pasal-pasal tadi mirip yg terjadi dalam iklan Gery Chocolatos versi anak masuk kulkas yg sanggup membahayakan jasmani anak-anak. Selain itu juga masih ada iklan provider 3 yg memakai anak-anak yg menyampaikan segala permasalahan orang dewasa. Bayangkan bila tidak ada etika yg menjadi garis tepi global persaingan ini, akan mirip apa kualitas tayangan yg disaksikan oleh anak Indonesia?

Adanya etika tidak membatasi estetika, namun menjadi sebuah pemicu yg dapat membangun kreativitas yg lebih berkualitas. Buktinya, begitu poly iklan kreatif di Indonesia meski wajib terbentur berbagai regulasi yg ada. Selain itu, kita menjadi warga juga wajib ikut serta dalam mengawasi kualitas periklanan ketika ini. EPI dapat kita jadikan landasan yg kuat buat turut mengamati. Dengan demikian, kita bisa menyaksikan lebih poly lagi periklanan yg lebih berkualitas, kreatif dan bertanggung jawab, terutama bagi anak-anak bangsa.

surat keterangan:

Robert M Liebert dan Joyce Sprafkin, The Early Window: Effect of Television on Children and Youth, 3rd editions, Pergamon Press, 1988, hal 167-168.

Macklin MC, Carlson L, eds. Advertising to Children: Concepts and Controversies. Thousand Oaks, CA: Sage; 1999

www.pariwaraindonesia.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here