Etika Pariwara Indonesia Mengarahkan Kreativitas, Bukan Mengekangnya.

0
470
Advertising
Advertising

Etika Pariwara Indonesia
Etika Pariwara Indonesia: Mengarahkan Kreativitas, Bukan Membatasinya.

Iklan, siapa yg nir mengenal iklan, dimana saja iklan bisa kita temui, di jalan, di koran, di televisi, bahkan di handphone kita-pun terkadang dikirimkan sms iklan, akan tetapi, tahukan kalian tentang apa yg dimaksud beserta iklan?

Hakikat Iklan:

Pada hakikatnya sebuah iklan hanyalah sebuah media pemasaran yg bertujuan buat membuat sebuah produk menjadi lebih dikenal (increasing awareness) di pasarnya, iklan bukan adalah alat penentu penjualan terhadap suatu produk secara pasti. Iklan yg baik artinya iklan yg mampu membuat sebuah komunikasi persuasif terhadap pasar dan iklan yg baik mampu mengemas sebuah pesan yg ingin disampaikan produk secara pas serta mengena dalam target audiens yg dituju. Fungsi iklan sendiri artinya menjadi alat buat mempengaruhi audiens dan alat buat mengakibatkan image pribadi mengenai sebuah produk yg diiklankan di dalam benak konsumen, iklan adalah alat buat menaikkan brand awareness, bukan menjadi alat buat melakukan product selling.

Meski dalam hakikatnya fungsi iklan adalah media buat menaikkan awareness, akan tetapi dalam kenyataannya akhir-akhir ini fungsi iklan semakin berubah dan  berkembang seiring beserta perkembangan jaman. Perkembangan jaman dan perkembangan teknologi yg sangat cepat ditambah beserta menguatnya efek globalisasi yg mendominasi konsumen tanpa batasan kawasan akan tetapi beserta motif yg sama, yaitu motif laba ekonomis dalam perdagangan. Hal tersebut telah merubah fungsi iklan secara perlahan akan tetapi pasti, dari yg hanya menjadi media buat menaikkan awareness produk, berkembang menjadi alat buat product selling beserta cara memanipulasi pikiran audiens beserta berbagai tayangan-tayangan visual iklan yg menarik. Masyarakat waktu ini pula semakin nir perduli beserta fakta mengenai mutu produk dan lebih menyukai visualisasi dari produk dalam iklan yg sangat menarik, menjadi akibatnya mereka menjadi lebih gampang termakan iklan dan lebih gampang buat membeli berbagai macam produk yg nir mereka perlukan.

Termakan Iklan:

Dikarenakan masyarakat waktu ini semakin nir perduli beserta fakta mengenai mutu produk dan lebih menyukai visualisasi dari produk dalam iklan yg sangat menarik, maka hal tersebut pula berdampak terhadap iklan yg dibuat oleh para pengiklan. Pengiklan waktu ini telah mulai nir perduli beserta fakta produk yg ingin diiklankan, mereka hanya berusaha buat membuat visual iklan yg bisa menarik banyak atensi dari para target audiens. Oleh karena itu, berbagai cara-pun dilakukan oleh pengiklan demi mendapatkan atensi dari para target audiens, mulai dari menampilkan majemuk kebohongan-kebohongan yg bisa menyesatkan publik.

Kebohongan dalam Iklan:

Pengiklan pula terkadang menyampaikan makna yg terlalu berlebihan beserta menyampaikan janji-janji akan keunggulan sebuah produk, hal tersebut tentu saja bisa mengakibatkan persepsi berlebihan mengenai sebuah produk yg dalam akhirnya akan pulang menyesatkan konsumen.

Iklan Membesar-besarkan:

Selain menampilkan kebohongan dan kesan membesar-besarkan yg membuat target audiens menjadi bingung dan tersesat dalam persepsinya sendiri, Pengiklan waktu ini pula nir tanggung-tanggung buat menjelek-jelekkan produk competitor yg mempunyai jenis produk sama, hal tersebut terperinci telah melanggar etika dalam berbisnin, karena pengiklan telah merendahkan produk milik competitor secara terang-terangan dalam ruang publik.

Iklan Merendahkan Produk Kompetitor:

Iklan Merendahkan Produk Kompetitor 2:

Dengan maraknya berbagai pelanggaran norma dan etika yg dilakukan para pengiklan tersebut, maka seluruh iklan yg berada di Indonesia, penyebarannya harus diawasi dan diatur oleh sebuah hukum yg terperinci supaya kedepannya nir ada lagi iklan-iklan komersil yg melanggar norma dan etika dalam masyarakat, oleh karena itu dalam akhirnya, Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I) putusan bulat buat mengeluarkan Etika Pariwara Indonesia (EPI) yg berisi kumpulan hukum-hukum terkait Tata Krama dan Tata Cara Periklanan Indonesia.

Etika Pariwara Indonesia:

Menurut Persatuan Perusahaan Periklanan Indoneasia (P3I), etika periklanan artinya seperangkat norma dan padan yg mesti dikuti oleh para politis periklanan dalam mengemas dan menyebarluaskan pesan iklan kepada khalayak ramai baik melalui mediamassa maupn media ruang. Menurut EPI (Etika Pariwara Indonesia), etika periklanan artinya ketentuan-ketentuan normatif yg menyangkut profesi dan bisnis periklanan yg telah disepakati buat dihornati, ditaai, dan ditegakkan oleh seluruh asosiasi dan forum pengembangannya.

Kitab Etika Pariwara Indonesia (EPI) artinya kitab panduan yg disusun oleh para praktisi periklanan senior Indonesia yg berasal dari berbagai latar-belakang. Kitab tersebut disusun berdasarkan pengalaman mereka dan perbandingan etika periklanan yg ada di Negara-negara lain. Dalam membentuk dan mengembangkan EPI, P3I mempunyai acuan tersendiri yg berasal dari peraturan-peraturan pemerintah, acuan-acuan yg digunakan dalam EPI antara lain artinya:

Acuan dari Etika Periklanan di Indonesia

Keputusan  Menteri Kesehatan RI N O. (RANCANGAN) Tentang petunjuk Pelaksanaan PP RI Nomor 69 Tahun 1999 Tentang Label dan Iklan Pangan.

PP RI No.81 Tahun 1999 Tentang Pengamanan Rokok Bagi Kesehatan.

PP RI No.38 Tahun 2000 Tentang Perubahan Atas PP RI No.81 Tahun 1999 Tentang Pengamanan Rokok Bagi Kesehatan

Keputusan Menteri Kesehatan RI No.368/Men.Kes/SK/IV/1994 Tentang Pedoman Periklanan Obat Bebas, Obat Tradisinal, Obat rumah tangga, Makanan, dan Minuman.

Tata Krama dan Tata Cara Periklanan Indonesia yg disempurnakan.

Aika disimpulkan secara singkat, di dalam kitab EPI masih ada 3(tiga) unsur yg digunakan dalam melakukan evaluasi etika dalam periklanan, ketiga unsur yg harus diperhatikan dalam evaluasi etis tidaknya suatu iklan, yaitu: Tujuan Awal Pengiklan, Isi Materi Iklan, dan Keadaan Publik yg Menjadi Target Audiens. Adapun klarifikasi dari ketiga unsur tersebut artinya menjadi berikut:

Tujuan Awal Pengiklan: Aika sejak awal dari maksud si pengiklan nir baik,beserta sendirinya nilai moralitas iklan tersebut akan menjadi nir baik pula. Aika si pengiklan memahami bahwa produk yg diiklankan akan merugikan konsumen atau beserta sengaja ia menjelekan produk dari kompetitor produk yg diiklankan, maka iklan akan menjadi nir etis.

Isi Materi Iklan: Isi materi iklan harus baik dan nir mengandung unsur yg menyesatkan target audiens, mirip dengan ungkap yg nir lazim dan dengan tanda asteris yg nir dijelaskan secara lebih jelasnya, selain itu iklan nir diperbolehkan menyembunyikan maksud pribadi yg sebenarnya krusial dan harus diinformasikan kepada target audiens.

Keadaan Publik yg Menjadi Target Audiens: Isi pesan sebuah iklan haruslah diimbangi beserta keaadaan publik yg menjadi target audiens, dimana dalam masyarakat beserta tingkat pendidikan rendah dan masih ada banyak orang yg gampang tertipu hasil nir memahami, maka standar sebuah iklan harus diperketat, supaya para pengusaha iklan nir memanfaatkan ketidaktahuan target audiens demi menaikkan keuntungannya sendiri.

Para praktisi periklanan Indonesia justru seharusnya berterima-kasih beserta adanya kitab tersebut karena kitab tersebut memudahkan mereka buat memahami hal-hal yg nir disukai oleh konsumen Indonesia tanpa harus melakukan penelitian sendiri. Namun, Ironisnya dalam waktu Kitab Etika Pariwara Indonesia (EPI) ini diterbitkan ke publik, EPI banyak sekali diprotes oleh para produsen iklan yg nir puas, mereka merasa bahwa kreativitas mereka dalam membuat sebuah iklan telah dibatasi dan dihalang-halangi. Padahal jikalau ditelaah secara lebih dalam, yg dianggap beserta kreativitas artinya, kemampuan buat melihat batasan-batasan menjadi sebuah cara buat memunculkan kreativitas lain.

Kesimpulan:

Kitab EPI sendiri hanya bermaksud buat mengarahkan kreativitas para pengiklan menuju kearah yg baik dan permanen mematuhi norma-norma yg berlaku dalam masyarakat, karena kreativitas periklanan, bukanlah kreativitas yg liar, nir terkontrol, dan nir mempunyai hukum. Oleh karena itu jikalau ada seseorang yg mengaku bahwa kreativitasnya telah dibatasi oleh hukum-hukum dan norma-norma yg berlaku dalam masyarakat telah pasti orang tersebut bukan orang yg benar-benar kreatif, karena dalam hakikatnya kreativitas nir mempunyai batasan, dan jikalau kreativitas dibatasi, maka akan timbul cara-cara kreatif lainnya yg nir melanggar batasan tersebut.

Refference:

Etika Pariwara Indonesia (Tata Krama dan Tata Cara Periklanan Indonesia) Cetakan ketiga – September 2007.

https://image.google.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here