Advertising
Advertising

Etika Pariwara Indonesia  Mengawasi Bukan Membatasi

Pada hakikatnya globalisasi berita & komunikasi setiap media massa, melahirkan suatu imbas sosial yg mengandung perubahan-perubahan nilai-nilai sosial & budaya insan. Tayangan-tayangan pada sinema elektronik mirip pada media televisi sangat menyampaikan imbas yg cukup akbar bagi masyarakat, baik dalam hal psikologis maupun perubahan sikap.

Sebuah kreatifitas memang sulit buat dibatasi, karena buat mendapatkan suatu karya yg baik dari sebuah kreativitas diharapkan sebuah ilham yg brilian. Sebuah ilham yg brilian biasanya datang dari suatu pemikiran atau fantasi atau mimpi yg diluar batas (Out of The Box). Dalam dunia periklanan, para pelaku iklan yg biasa dikenal menjadi menjadi advertising agency, memiliki asal daya insan yg mayoritas memiliki taraf kreatifitas yg unik & menarik, yg mampu di visualisasikan dalam bentuk visual (video, gambar, gambaran, & goresan pena) atau pun dalam bentuk audio (bunyi).

Dewasa ini, dalam berbagi suatu kreatifitas dalam suatu bidang, haruslah sesuai beserta nilai & norma dalam suatu bidang pada khalayak awam tersebut. Di Indonesia, sangat menjunjung tinggi nilai-nilai moral & etika pada setiap sikap kehidupan sehari-hari. Dalam hal beriklan pun, para pelaku iklan juga harus mematuhi apa saja yg telah diatur dalam UU Penyiaran atau UU Pariwara Indonesia yg telah diatur agar sejalan beserta nilai-nilai sosial-budaya masyarakat. Dewan Periklanan Indonesia (DPI) telah menelaah rapikan krama & rapikan cara beriklan pada pedoman UU Penyiaran & UU Pariwara di dalam Etika Pariwara Indonesia (EPI).

Etika Pariwara Indonesia (EPI) merupakan pedoman dalam periklanan di Indonesia, yg memiliki konten berupa konten-konten normatif mengenai rapikan krama & rapikan cara, menyangkut profesi & urusan ekonomi periklanan yg telah disepakati buat dihormati, ditaati, & ditegakkan oleh semua asosiasi & lembaga pengembannya. (EPI, 2007)

Segala rapikan krama & rapikan cara beriklan di Indonesia, telah diatur dalam pedoman Etika Pariwara Indonesia (EPI) yg dikaji & diawasi oleh Dewan Periklanan Indonesia (DPI). Ketatnya penyaringan & pengawasan dari Dewan Periklanan Indonesia (DPI) mengacu pada Etika Pariwara Indonesia (EPI), membuat produk-produk yg ingin mengiklankan produknya memutar otak buat mampu menyajikan iklan kreatif serta memiliki pesan yg baik, kompherensif, & edukatif bagi masyarakat di seluruh Indonesia.

Pedoman EPI ini juga turut menyampaikan dampak yg positif bagi perkembangan nilai & norma serta pemikiran audience buat selalu berfikir positif & cerdas. Salah satu kenyataan yg menjadi satu dari fokus EPI merupakan menutup ruang gerak bagi pendayagunaan & pemanfaatan pornografi dalam periklanan.

Terdapat 3 pasal UU yg mengatur wacana penyiaran & pariwara, antara lain :

1. UU RI NO 32 TAHUN 2002

TENTANG PENYIARAN

Pada Pasal 46 ayat 3 poin D & E, berbunyi :

D. Hal-hal yg bertentangan beserta kesusilaan masyarakat & nilai-nilai agama; & atau

E. Eksploitasi anak dibawah usia 18 tahun.

Pada Pasal 46 ayat 6, berbunyi :

(6) Siaran iklan niaga yg disiarkan pada mata acara anak-anak wajib mengikuti standar siaran buat anak-anak.

dua. Seperti yg telah dikaji pada pedoman EPI pasal 1 poin 26 wacana Pornografi & Pornoaksi, yg berbunyi :

Iklan nir boleh mengeksploitasi erotisme atau seksualitas beserta cara apapun, & buat tujuan atau alasan apapun.

3. Pasal tersebut terkait beserta pedoman EPI pasal 1 poin 27 wacana Khalayak Anak-anak, berbunyi:

Ayat 1

Iklan yg ditujukan kepada khalayak anak-anak nir boleh menampilkan hal-hal yg mampu mengganggu atau merusak jasmani & rohani mereka, memanfaatkan kemudahpercayaan, & kekurangpengalaman, atau kepolosan mereka.

Ayat dua

Film iklan yg ditujukan kepada, atau tampil pada segmen dikala siaran anak-anak & menampilkan adegan kekerasan, kegiatan seksual, bahasa yg nir pantas, & atau obrolan yg sulit wajib mencantumkan istilah-istilah Bimbingan-bimbingan Orangtua atau simbol bermakna sama.

Isu pornografi & pornoaksi menjadi perkara yg berfokus di setiap negara, baik negara maju maupun berkembang. Karena pornografi & pornoaksi mampu menyampaikan imbas samping yg sangat merusak bagi pikiran & moral seseorang.

Hal yg sangat ditakutkan seandainya pedoman EPI nir menelaah mengenai pornografi & pornografi atau konten yg nir layak dikonsumsi oleh anak-anak secara kentara, mampu dibayangkan bagaimana dampak buruk yg akan terjadi terutama bagi anak-anak bangsa ini.

Bagi para pelaku iklan yg dalam sanksi iklan melakukan pelanggaran dari aturan yg diatur dalam pedoman EPI. Maka, Dewan Periklanan Indonesia (DPI) akan menyampaikan teguran keras bahkan hingga pencabutan hak siar iklan tersebut. Walaupun dalam praktiknya, terdapat saja iklan-iklan dari merek pribadi yg melakukan pelanggaran-pelanggaran, baik berat maupun ringan.

Menurut aku, pedoman EPI ini sangat menyampaikan tuntunan bagi para pelaku iklan baik brand dalam ataupun luar negeri. Selain itu, sisi positifnya merupakan menyampaikan suatu tantangan bagi para advertising agency buat selalu berkreasi, berfikir kreatif, & menghasilkan kreatifitas yg selalu berkembang dari dikala ke dikala.

Saya berharap semoga para pelaku iklan & klien-klien dari brand yg akan beriklan, mampu membuat ilham-ilham yg lebih kreatif, pesan yg efektif, & edukatif. Selain itu juga, nir menganggap pedoman EPI menjadi penjara kreatifitas, melainkan menjadi tuntunan dalam berkreatifitas. Terakhir, semoga industri periklanan di Indonesia mampu turut serta menjadi agen sosial pembentukan moralitas bagi para penerus bangsa di masa depan.

Referensi :

Etika Pariwara Indonesia (Tata Krama & Tata Cara Periklanan Indonesia) Cetakan ketiga – September 2007.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here