Advertising
Advertising

Fenomena Jual-Beli Online
Semakin canggihnya teknologi info ternyata agak berpengaruh terhadap gaya belanja masyarakat yang melek teknologi, salah satunya adalah belanja via toko online. Usaha toko online sendiri sudah timbul sejak awal 2000-an, saat itu toko online berbentuk website, peminatnya belum poly dan penggunaan internet yang belum seperti saat ini.

Lalu kegiatan jual-beli online mulai berkembang didalam forum internet, hingga timbul forum spesifik jual beli. Lalu timbul maupun yang membuka toko online beserta memanfaatkan website. Saat ini? bahkan situs jual-beli online hingga beriklan pada televisi, supaya poly yang beriklan dan bergabung beserta situs tadi. Tidak hanya pada situs jual-beli online, situs jejaring sosial seperti facebook dan twitter, dan pelaksanaan messengger pada smartphone seperti (BlackBerry Messengger, LINE, KakaoTALK, WeChat, dsb) sanggup digunakan untuk menjalankan sebuah toko online.

Semakin kesini, semakin mudah untuk membuat sebuah toko online. Hal ini tentu dapat memfasilitasi pengguna teknologi untuk berwirausaha, atau sekedar mencari tambahan penghasilan. Dengan niat dan tekad yang kuat, bukan nir mungkin anda sanggup mempunyai penghasilan lebih dari seorang pejabat pemerintahan.

Namun sebab sangat mudahnya membuat sebuah toko online, ternyata timbul insan yang 'berotak kriminal' yang memanfaatkan sebuah toko online untuk merugikan orang lain. Biasanya para penipu memanfaatkan situs jual-beli online, forum internet, dan website untuk melakukan aksi mereka. Kemudian memasang foto yang sanggup jadi didapat dari google dan diposting beserta harga yang miring. Bagi yang teliti sebelum membeli, tentunya nir akan percaya begitu saja. Tapi jika sudah tertarik beserta harga murah yang ditawarkan, kadang orang suka lupa untuk mencurigainya.

Akhir tahun 2012, teman saya melihat sebuah iklan kamera DSLR yang dijual beserta harga murah disebuah situs jual-beli online. Sebuah kamera DSLR Nikon beserta lensa tambahan dijual beserta harga Rp. 2.500.000,-. Untuk orang yang sudah lama didunia fotografi niscaya nir akan tertarik beserta harga yang ditawarkan sebab sudah mengetahui bahwa itu adalah penipu. Namun teman saya tertentu menghubungi dan mentransfer uang ke rekening milik si penipu. Dan betul saja dugaan saya, kamera DSLR itu nir kunjung datang hingga saat ini.

Kalau saya, lain lagi ceritanya. Saya membeli sebuah t-shirt beserta brand "The Dirty Harry", brand tadi milik gitaris Pee Wee Gaskins, Harry Mahardhika. Setelah melihat produk-produk The Dirty Harry via twitter pada @the_dirtyharry, saya memutuskan untuk membeli sebuah t-shirt beserta harga Rp. 100.000,-. Kemudian saya transfer uang pembeliannya, dan 3 hari kemudian barang sudah timbul ditangan saya. Yang jadi problem adalah kualitas sablon dan bahan t-shirt yang saya terima, tipis dan sangat nir memuaskan. Jauh dari ekspetasi saya saat melihat foto t-shirt tadi pada twitter The Dirty Harry. Padahal beserta nominal uang yang sama, saya sanggup dapat t-shirt yang lebih baik.

Kejadian yang saya alami telah menyadarkan saya akan kekurangan dari jual-beli online, kita nir sanggup mengetahui kualitas barang yang ditawarkan. Adapun foto produk yang ditawarkan seringkali lebih baik dari aslinya. Untuk mengatasi problem seperti ini, maka CoD (Cash On Delivery) sanggup jadi solusi bagi yang gemar belanja online. Namun permanen wajib berhati-hati, sebab timbul beberapa perkara CoD yang berujung beserta hipnotis, penculikan, dan pemerasan. Jadi terserah anda, untuk saat ini memang belanja secara tertentu pada dunia konkret masih menjadi pilihan terbaik bagi masyarakat Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here