Hai Malang, Bagaimana Kabarmu Sekarang

0
465
Advertising
Advertising

Hai Malang, Bagaimana Kabarmu Sekarang
Lahir & akbar pada Malang, mengenal seluk beluk Malang, bahkan jalan tikus yg akan tembus ke arah mana telah hafal pada luar kepala. Balita tumbuh pada daerah Tajinan, yg searah ke arah pantai, membuatku mengenal apa itu hidup pada daerah terpencil. Masa mini pada daerah Sawojajar, sebagai saksi huma yg dulunya kawasan berternak kerbau sebagai ruko terpanjang se Asia Tenggara. SMP hingga terselesaikan kuliah pada Batu, sebagai saksi daerah yg dulunya sepi sebagai banyak sekali objek wisata.

Meniti karir pada pada Kota Malang, merasakan UMR kita lebih mini asal UMR beberapa daerah lain,walau secara status jabatan dalam perusahaan swasta lebih tinggi. Seiring berjalannya waktu, kebutuhan akan hidup yg semakin akbar, lowongan kerja yg menyempit, kebutuhan akan lisan, & banyak sekali alasannya adalah pendukung sebagai alasanku pergi asal Malang, menuju ibukota.ya, sekarang aku pada Jakarta.

Jarak Jakarta Malang yg hanya kurang lebih 900 km, bisa pada tempuh beserta pesawat hanya 1,lima jam, atau ingin menikmati perjalanan darat beserta moda transportasi kereta api yg antara 14-18 jam. Mudah sebenarnya untuk menjenguk Malang setiap minggu atau minimal sebulan sekali, akan tetapi nir kulakukan. Mengapa???

Perubahan jaman mulai merubah paras kotaku. Macet yg makin parah, warung kopi kekinian tongkrongan anak belia bertebaran pada mana mana, perumahan pada mana-mana yg menimbulkan harga tempat tinggal melonjak drastis. Kota hidup selama 24 jam. Tidak jauh beda beserta kota yg aku tinggali

Rindu yg ku pendam,semakin lama, semakin terasa saat bertemu. Bertemu udara dingin ( walau tidak sedingin dulu, terbukti pada tempat tinggal sekarang terpasang kipas angin ), rindu bakso Malang pada setiap sudut yg rasanya uenak tenan, rindu bertemu banyak saudara & sahabat-sahabat, & bila senang nonton bola pada stadion merupakan rindu menonton Arema bertanding.

Banyak yg berubah, akan tetapi aku punya lebih banyak alasan untuk menjenguk Malang. Iya, menjenguk bukan tinggal. Biarkan aku sebagai ikan mini pada laut yg luar, bertemu beserta banyak sekali macam kesulitan & halangan, biarkan aku bejar asal ikan ikan lain, hingga nanti suatu saat, aku telah akbar & dewasa, aku telah sebagai ikan yg kuat & pulang ke Malang, ikut membantu membesarkan Malang agar bisa sebesar Jakarta. Amin

Nawak-nawak (kawan-Kawan) yg saat ini merantau dimanapun, memeriksa hidup ditempat tinggal yg sekarang, & saat yg pasti pulang ke Malang untuk membangun Malang sebagai lebih baik. Salam Satu Jiwa

Dirgahayu Kota Malang yg ke 102

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here