Hei Kamu, Konsistenlah serta Stop Ambigu Dalam Hal Apapun!

0
814
Advertising
Advertising

Hei Kamu, Konsistenlah
Ambigu. Kata orang sekarang, maknanya gak terperinci atau bermakna ganda. Apa yg dituju dan apa yg dijalanin malah beda. Orang bahasa bilangnya taksa, alias bias.

Ambigu itu identik juga bersama ragu-ragu. Bingung. Sehingga gak bisa ditebak arahnya mau kemana. Katanya kabinet mau di-reshuffle, tapi tidak terperinci juntrungannya. Katanya PSSI sarang korupsi, hingga dibuat tim transisi namun orangnya kepada mundur. Jadi, mau gimana sih? Ambigu banget. Bukannya semakin terperinci, malah semakin buram.

Kita sendiri juga suka ambigu. Kita sadar, ucapnya hukum alam. Ada siang muncul malam. Ada suka muncul sedih. Ada benci muncul cinta. Ada sedih muncul gembira. Ada basah muncul kering. Tapi giliran kita lagi sedih, lagi sedih malah mengeluh. SeolahTuhan gak berpihak kepada kita. Giliran lagi senang, gembira hingga lupa saat lagi sedih. Aneh.

Giliran hidup lagi terpuruk, kita seringkali mencari kambing hitam, siapa penyebabnya. Kalau perlu, orang lain yg disalahkan. Dianalisis hingga dalam, intinya cuma nyari siapa yg salah. Hebatnya, kita sendiri juga sadar. Keadaan terpuruk misalnya apapun, kalo kita gak bangkit, gak move on maka kita juga tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Iya kan? Coba deh renungin kalimat itu.

Lha, terus emang kalo gue ambigu kenapa?

Ya gak kenapa-kenapa. Namanya juga ambigu. Sesuatu yg gak terperinci, ragu-ragu. Orang lain aja kepada ambigu, kenapa kita gak? Iya gak.

Coba lihat, berapa banyak orang bilang cinta kepada pacarnya, kepada pasangannya, kepada anaknya? Tapi sayang perilakunya tidak cinta. Terlalu gampang menyakiti, terlalu gampang meratapi. Ya, orang ambigu emang suka gitu. Lain di verbal, lain di hati, dan lain juga di perbuatan.

Sebut saja orang tua yg menelantarkan anaknya. Katanya cinta kepada anak. Tapi ditelantarin, semena-mena kepada anak. Lalu berdalih, itu cara kita mendidik anak. Cinta kepada anak, tapi perbuatannya tidak cinta. Ambigu banget.

Jadi, apakah orang tua sungguh cinta kepada anaknya? Ahhh sudahlah, cinta memang ambigu.

Ada lagi yg bilang cinta, tapi bentar-bentar berantem, bentar-bentar menyakiti. Sampai muncul polisi belia yg menembak kepala sendiri alias bunuh diri efek bertengkar bersama pacarnya. Sekali lagi, cinta itu ambigu.

Kemarin, hari ini, hingga esok. Di televisi, semakin banyak tokoh yg ucapnya akademisi, praktisi, atau politisi. Tapi justru sibuk menjelek-jelekkan orang lain, mengumbar aib orang yg bukan kelompoknya. Bikin opini publik yg membingungkan, bikin gaduh. Masalahnya jadi makin ambigu.

Lagi-lagi kita juga begitu. Suka minta tolong dan menuntut rasa nyaman di saat tersakiti. Tapi di lain waktu, kita malah menyakiti orang lain. Berapa banyak, orang yg hari ini tertawa tanggal di siang hari, tapi menangis di malam hari. Ramai menurut pagi hingga sore, tapi kesepian di malam hari. Dan bilang suka padahal tidak suka. Sungguh, ambigu itu muncul di dekat kita.

Seperti celoteh anak belia. Waktu pacaran bilang,

Mungkin gue memang dipertemukan buat masa depan.

Entah sebab apa, begitu putus bilang lagi,

Gue udah berusaha, tapi emang gak jodoh mau diapain.

Itu anak belia, baru pacaran saja ambigunya sudah gak kepalang.

Jadi, bagaimana harusnya izin gak ambigu?

Ya, kita perlu hati-hati saja. Ambigu dihentikan berkepanjangan. Sudah sukses, punya pekerjaan, punya tunggangan, uang agak. Sayang kalau ditanya ihwal hidup, jawabnya tidak senang. Itu namanya ambigu juga. Emang senang itu apa sih? Ya jawaban itu yg bikin ambigu.

Sadar atau tidak sadar, kita butuh buat menghindar menurut sikap ambigu. Agar hidup kurang lebih kita tidak lebih buruk menurut yg sekarang. Maka, kembalilah kepada sikap konsisten dimana pun kita berada. Jangan hingga warna "putih" dibilang "hitam", atau sebaliknya. Karena hidup sama sekali tidak pernah ambigu.

Menjauhlah menurut sikap ambigu. Agar kita tidak membenarkan celoteh-celoteh,

Kenapa kita hidup kalau kepada akhirnya tewas?

Kenapa kita muncul padahal akhirnya juga akan binasa?

Pertanyaan itu, sungguh terlalu ambigu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here