Ibuku Teladan Membacaku

0
357

Kulihat, beliau menghentikan ayunan tangan gemulainya pada atas cobek. Serbet kotak masih menggantung pada pundaknya. Kini tangan dan matanya asik mengamati sobekan koran kemasan cabe, yg kini isinya telah timbul pada cobeknya.

"Sudah bu?"

Pertanyaanku, membuyarkan keasyikannya. Ia memandangku sambil tersenyum, lantas melanjutkan kembali aktifitasnya mengulek cabe. Membuatkanku sambel bawang. Sementara, nasi putih hangat yg mengepul sedari tersebut mesti sabar menunggu temannya yg masih pada proses sang ibuku. Tak maupun kunjung selesai.

Begitu aktifitas ibuku. Berburu bacaan dari koran-koran bekas kemasan bumbu-bumbu dapurnya. Mulai dari informasi politik, artis, ekonomi, kartun hingga resep masakan yg terkadang telah hilang bagian terpentingnya. Ia tidak rela, kemasan-kemasan berharga itu begitu saja melayang ke tempat sampah. Meski beliau maupun tahu, informasi kadaluarsa itu tidak lagi terlalu bermanfaat.

Ibuku, hanya lulusan sekolah dasar. Meski beliau orang kota, namun sebab tugas bapakku, terpaksa kami tinggal pada pedalaman Sumatera Utara. Jauh dari akses informasi. Saat itu, perlu waktu dua hingga tiga jam buat ke kota kecamatan. Itupun setelah berjuang sangat keras menaklukkan jalanan berlumpur bak kubangan yg Panjang. Tetapi itu tidak menyurutkan semangat ibuku menuntaskan kegemarannya, membaca.

Informasi terkini, tidak selalu didapat ibuku sebulan sekali. Saat bapakku, kembali dari kota membawakannya beberapa majalah dan tabloid. Beberapa diantaranya, telah lama, informasinya tidak lagi baru. Itu tidak terlalu vital bagi ibuku. Karena yg terpenting baginya ialah, menuntaskan dahaganya dalam membaca. Selama apapun informasinya, apabila beliau belum tahu, selalu baru baginya.

Ia mengkliping bagian-bagian yg menurutnya vital, tak terkecuali resep masakan. Meski dalam hal ini, ibuku inkonsisten. Tidak timbul resep masakan yg tidak lezat kulihat, semuanya mengundang selera. Tetapi seringkali, kami harus menghadapi fenomena. Masakan ibuku, selalu kembali ke menu favoritnya. Tidak berganti dari satu periode ke periode berikutnya. Sulit berharap beliau mempraktikkan masakan baru dari resep yg beliau kliping itu. Tetapi bukan berarti masakan ibuku tidak lezat. Kini masakannya itu selalu kurindukan.

Perlahan, apa yg dilakukan ibuku itu membekas pada kepalaku. Ia selalu fasih menceritakan orang-orang hebat yg beliau baca. Menikmati kisah dari petualangan orang ditempat-tempat paling menakjubkan pada mayapada, yg satu pun mungkin tempat itu belum pernah beliau kunjungi. Ia selalu punya hal baru dari koran-koran usangnya. Ibuku mengajariku, bagaimana menyenangkannya membaca itu, meski beliau hanya lulusan sekolah yg tingkatannya paling rendah itu. Selamat hari ibu, buat ibu hebatku dan ibu-ibu hebat yg lainnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here