Kids Zaman Now Kecanduan Gawai, Emak-emak Bikin Kampung Baca

0
654

Kids Zaman Now
MAGELANG, KOMPAS.com – Kaum bunda pada Kampung Pucangsari, Kelurahan Kedungsari, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang, Jawa Tengah, mendirikan ' Kampung Baca' yg bisa dikunjungi warga setempat, khususnya anak-anak, dengan perdeo.

Ide ini timbul sesudah melihat kenyataan generasi belia dikala ini yg lebih menyukai gadget daripada kitab. Mereka ingin menggerakkan lagi budaya membaca pada warga.

"Kami sungguh prihatin dengan anak-anak zaman sekarang yg sudah kecanduan HP, main media sosial, hampir tidak pernah membaca kitab. Sama halnya dengan orang-orang dewasa. Kami ingin menggerakkan lagi budaya membaca," ujar Ch Kurniawati, salah satu pendiri Kampung Baca Kedungasari, Selasa (5/12/2017).

Wati, panggilan Ch Kurniawati, mengaku tidak gampang buat mewujudkan Kampung Baca ini. Dirinya & kaum bunda pada kampung ini harus merelakan waktu & tenaganya buat mengumpulkan kitab-kitab, menyiapkan tempat, hingga menyadarkan warga lainnya wacana pentingnya membaca kitab.

"Yang paling vital artinya mengubah mindset warga, bagaimana mereka bisa tergerak hatinya buat mau meluangkan waktu, memberi model warga lainnya agar getol membaca," tandasnya.

Wati beserta bunda-bunda pengurus Pimpian Ranting Aisyiah Kedungsari itu bahkan menyisihkan sedikit uang belanja mereka buat membeli kitab-kitab, & perlengkapan mulai rak kitab, karpet & sebagianya. Beberapa pada rumah pada kampung ini jua disulap sedemikian rupa menjadi 'mini' perpustakaan.

(Baca jua: Kisah Perahu Pustaka Jelajahi Pesisir Sulawesi agar Anak-anak Bisa Membaca)

Selain kitab, pada kampung ini jua dipamerkan foto-foto jurnalistik wacana kehidupan perempuan & anak. Foto-foto ini pun dipasang pada tembok-tembok rumah warga agar warga dengan gampang melihatnya.

"Kami bersyukur alasannya ada donatur-donatur yg ikut menyumbangkan kitab & foto-foto buat Kampung Baca ini. Kami berharap dengan adanya program ini menjadi motivasi warga buat suka membaca kitab yg adalah jendela dunia. Kami jua yakin, dengan baca kitab, warga akan mempunyai pola pikir cerdas, kritis, sebagai akibatnya tidak gampang dihasut berita-berita hoaks yg marak belakangan ini," papar Ibu lima anak ini.

Wakil Wali Kota Magelang, Windarti Agustina, mengapresiasi penemuan bunda-bunda pada kampung padat penduduk ini. Kaum bunda memang mempunyai andil yg luar biasa pada perkembangan anak-anak dengan adanya kampung baca ini.

Saya apresiasi tinggi atas hadirnya Kampung Baca Umi. Kampung baca ini bisa jadi tempat anak-anak belajar poly hal dari membaca kitab, aku harap bisa jadi model bagi kampung lainnya, ujarnya.

Windarti mengingatkan bahwa perkembangan teknologi gawai yg makin pesat bisa memicu "virus" malas warga. Gadget atau gawai bisa berbahaya jikalau seseorang tidak bisa mengontrolnya, terutama pada anak-anak.

"Ada positifnya jua kemajuan teknologi, tapi sebaiknya arahkan anak-anak buat getol membaca kitab. Kalau anak lebih suka mencari donasi pada Google, ayo sekarang kita ajak anak buat mencarinya pada kitab, katanya.

Dia mengklaim Kampung Baca impak karya kaum bunda pada kampung ini adalah pertama & satu-satunya pada Kota Magelang. Dia berharap ide karya ini menjadi motivasi & pandangan baru warga kampung lainnya buat menciptakan gerakan positif. 

Sementara itu, Ida (30), seorang bunda rumah tangga dari kampung setempat, menuturkan, sekarang tidak lagi 'menganggur' sesudah selesai mengerjakan pekerjaan rumah tangga pagi hari. Dia bisa mengisi waktu luang dengan membaca majalah resep kuliner kesukaannya.

"Habis beres-beres rumah bisa ke sini, baca-baca kitab, cari resep kuliner. Biasanya selesai beres-beres cuma nonton TV atau main HP," istilah Ida sambil tertawa.

Sore hari, Ida, akan mengajak anak-anaknya belajar pada mini perpustakaan ini. Kebetulan pemilik rumah artinya seorang pengajar sebagai akibatnya bisa sekalian mengerjakan PR pada sini. Anaknya jua mulai getol membaca kitab cerita & komik.

Ramadhan (12), seorang anak dari kelurahan Kedungsari, jua tertarik dengan membaca kitab cerita yg disediakan pada mini perpustakaan itu. Meski dia masih terbilang sporadis berkunjung, tetapi membaca menjadi kebiasaan baru ketika kembali sekolah atau selesai bermain dengan teman-temanna.

"Kadang-kadang (berkunjung), suka baca kitab cerita. Biasanya habis main, sebelum kembali menjelang Maghrib mampir ke perpus," ujar bocah kelas 5 SD itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here