Mengapa Yahoo Kalah asal Google
Sekitar tahun 2003-2004 ketika saya pertama kali mengenal internet, halaman yang pertama kenal adalah Yahoo. Ya, kala itu Yahoo masih menjadi raja mesin pencari dan beberapa produk Yahoo menjadi primadona. Sebut saja Yahoo Mail, Yahoo Messenger (yang bersaing beserta MIRC), dan Yahoo Search Engine.

Ketika itu nomor adopsi internet masih sangat kecil di Indonesia. Perkiraan saya, mungkin hanya kurang berasal 1/4 penduduk Indonesia yang baru mengenal internet tapi belum jadi pengguna aktif. Tapi ini tidak bisa saya pastikan karena ketika itu saya masih duduk di bangku SMP.

Setiap pelajaran TIK, di laboratorium personal komputer, pelajaran-pelajaran dasar tentang personal komputer menjadi santapan primer. Kemudian sebagai hidangan penutup, sosialisasi tentang internet adalah menunya. Tentu saja sebagai primadona, Yahoo menjadi yang paling banyak diklaim ketika berbicara soal internet.

Tapi itu jadi kisah indah masa lalu. Lain dulu, lain sekarang. Yahoo sebagai perusahaan independen yang jaya pada masanya kini runtuh seperti bangunan yang hilang pondasinya. Sedikit demi sedikit produk-produk Yahoo ditutup guna menjaga kestabilan kondisi perusahaan. Sedikit demi sedikit saham terus tergerus. Bahkan CEO cantik Marissa Mayer pun kini menyerah dan menjual Yahoo pada Verizon senilai Rp 63 triliun.

Siapa yang mengalahkannya? Tentu saja Google.

Kisah David dan Goliath

Tadi pagi saya membaca sebuah artikel di media daring yang judul artikelnya serupa beserta tulisan ini. Intinya artikel tersebut menjelaskan mengapa Yahoo bisa kalah berasal Google.

Menarik berdasarkan saya. Dijelaskan bahwa Yahoo kalah berasal sisi teknologi dibandingkan Google dan inilah awal yang menjadikan keruntuhan Yahoo hingga saat ini. Benar sekali, memang jikalau dibandingkan, teknologi yang dimiliki Google jauh lebih canggih daripada Yahoo.

Lebih berasal satu dekade silam Yahoo masih menjadi raksasa yang menakutkan. Dan ketika itu, Google masih sangat belia dan belum berkembang sepesat sekarang. Ini mengingatkan saya pada kisah David dan Goliath (Nabi Daud dan Jaluth), di mana David yang digambarkan beserta perawakan kecil harus melawan sosok yang begitu akbar. Tapi pada akhirnya, kemenangan ada ditangan sosok yang terlihat lemah.

Ketika kedua raksasa internet ini masih bersaing memperebutkan posisi mesin pencari paling hebat se-jagat, Google bisa dibilang lebih cepat mengadopsi teknologi ketimbang Yahoo.

Dalam melakukan indeks halaman pencarian, Yahoo ketika itu masih menggunakan cara yang amat sangat tradisional. Di mana Yahoo menggunakan sumber daya insan untuk mencari dan melakukan indeks halaman website satu per satu supaya bisa timbul pada pencarian.

Berbeda beserta Google yang membuat sebuah alogaritma yang memungkinkan mesin melakukan indeks secara otomatis. Inilah poin primer yang membuat Google bisa mengalahkan Yahoo.

Filosofis dan Terlalu Fokus Pada Konten

Alih-alih mengedepankan konten sebagai produk primer, Yahoo malah lupa bahwa pada dasarnya bisnis internet memerlukan teknologi. Memang benar ungkapan "Content is a King," tapi "King" bukanlah tingkatan tertinggi dan masih ada yang lebih tinggi di atasnya yaitu "God".

Ya, mungkin memang benar bahwa konten adalah raja tapi dalam bisnis internet seperti ini, teknologi adalah "Tuhannya". Teknologi adalah backbone bisnis internet di mana tanpa adanya teknologi yang matang maka bisnis bisa dipastikan akan sangat tersendat. Inilah yang terjadi pada Yahoo lebih berasal satu dekade silam. Mereka terlalu filosofis dan mengutamakan konten tapi mengesampingkan teknologi yang menjadi penopangnya.

Sekitar tahun 2004, Yahoo mulai sadar bahwa Google tengah menggerogoti lini bisnis Yahoo. Tapi karena backbone mereka yang saya sebutkan tadi belum matang benar, maka mereka hampir tidak bisa berbuat apa-apa. Yang bisa mereka perbuat adalah mengajak Google bekerja sama untuk bahu-membahu mengejar kasta tertinggi bisnis mesin pencari.

Mereka sempat bekerja sama tapi itu tidak lama. Kerja sama ini berdasarkan saya adalah kesalahan akbar Yahoo yang malah jauh lebih menguntungkan pihak Google.

Google seolah mendapatkan "pembelajaran gratis" bagaimana harus mengelola konten mesin pencari. Sambil bekerjasama, mereka menyedot habis taktik-taktik konten Yahoo untuk membuat sebuah mesin pencari. Alhasil, pemutusan kerjasama yang terlalu dini terjadi dan Google kemudian menggeliat semakin akbar.

Google kemudian melakukan perombakan, inovasi dan pemugaran-pemugaran mayor serta minor dalam tubuhnya. Dan hasilnya, seperti yang kita lihat sekarang, Google menjadi "tuhan" bagi bisnis internet. Apalagi beserta menyisipkan iklan-iklan pada mesin pencari dan produk-produk lainnya.

Intinya adalah, keterlambatan Yahoo yang mengadopsi teknologi membuat tubuh mereka malah tergerus habis. Mereka terlalu terpaku pada filosofi "content is a king" dan lupa bahwa di atas raja masih ada lagi yang jauh lebih tinggi.

Yahoo berdasarkan saya langsung pula tidak begitu baik pada inovasi bisnis. Berbeda beserta inovasi produk, inovasi bisnis adalah cara atau taktik di mana sebuah perusahaan harus jeli melihat peluang untuk menghasilkan uang. Yahoo yang sebenarnya lebih dulu menerapkan mesin pencari berasal pada Google tidak jeli melihat adanya peluang produsen uang seperti yang dilakukan Google saat ini.

Tapi sekarang, mungkin kisah Yahoo akan menjadi lebih baik sesudah diakuisisi oleh Verizon. Arahnya akan ke mana, itu belum jelas. Yang mutlak akuisisi ini terjadi mutlak beserta alasan yang kuat. Mungkin Verizon melihat masih ada yang bisa diselamatkan berasal Yahoo. Mungkin…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here