Studi Banding Anggota DPR Jauh-jauh ke Jerman Hanya Pamer Kebodohan

0
676

Jauh-jauh ke Jerman, habiskan aturan negara paling sedikit Rp. 2,3 miliar, 11 anggota DPR yang katanya ke sana untuk melakukan studi banding dalam rangka penyusunan RUU Keinsinyuran itu, hanya pamer kebodohan serta bikin malu bangsa.

Padahal itu baru hari pertama kunjungan kerja mereka pada sana. Masih terdapat jadwal studi banding lainnya yang semuanya baru berakhir pada Jumat, 23 November 2012.

Demikian yang dapat disimpulkan dari siaran pers Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) pada Berlin, yang mengikuti langsung kunjungan kerja anggota DPR yang dipimpin oleh Wakil Ketua Badan Legislasi Sunardi Ayub itu.

PPI mencatat sebagaimana diberitakan Tempo.co, ketika delegasi DPR-RI itu melakukan studi banding pada Deutsches Institut fr Nrmung (DIN) pada Berlin, Jerman, pada Senin, 19 November 2012, terungkap mereka ternyata salah alamat. DIN tidak menangani standardisasi kompetensi profesi, tapi standardisasi produk serta proses produksi. Padahal  maksud studi banding ke Jerman itu artinya menggagas RUU Keinsinyuran.

Pejabat DIN pula menjelaskan bahwa DIN pula tidak berkapasitas dalam bidang legislasi. Sebab, DIN lebih berfokus pada riset serta edukasi. "Mereka menjelaskan bahwa DIN hanya bekerjasama bareng pihak legislatif ketika akan menentukan apa-apa saja yang perlu distandardisasi," ujar Ketua PPI Alavi Ali yang memantau langsung pertemuan tersebut..

Mungkin untuk menutupi rasa malu mereka (masih punya malu-kah?) sebab ternyata salah alamat, para anggota DPR itu tetap saja nekad mengajukan pertanyaan-pertanyaannya kepada DIN. Akibatnya, sudah pasti, tambah parah. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pun tidak terperinci, bahkan tidak nyambung menciptakan anggota DIN yang hadir pada program tersebut terlihat resah.

Apalagi, ternyata sebagian anggota DPR itu tidak dapat berbahasa Inggris, maka ketika program baru hendak dimulai mereka sibuk mencari penterjemah ke pihak Kedutaanbesar Indonesia. Terbukti lagi bahwa tidak terdapat persiapan yang serius untuk studi banding ala DPR itu. Seharusnya, misalnya yang dikatakan pihak PPI, penterjemah sudah dipersiapkan sejak awal, serta penterjemahnya pun harus menguasai materi yang didiskusikan.

Di duga sebab tidak menguasai bahasa/materi, atau memang tidak serius, ketika program masih berlangsung, terlihat terdapat beberapa anggota DPR yang malah bermain bareng ponsel mereka (mungkin main game, yah?).

Sudah begitu, masih terdapat 2 anggota DPR yang membawa-bawa kebiasaan jelek mereka pada Indonesia pada pertemuan itu. Sesuai jadwal, program dimulai pukul 10.00 waktu setempat, mereka tiba terlambat hampir 2 jam. Mereka itu, satu orang pria serta satu orang wanita baru tiba pada pukul 11:45. Atau 15 menit menjelang program terselesaikan.

PPI menyampaikan bahwa semua yang ditanyakan oleh para anggota DPR itu sifatnya terlalu umum, sebagai akibatnya untuk mendapt jawabannya, cukup diperoleh dari internet, atau e-mail. Atau, kalaupun tetap mau mengirim delegasi, cukup satu-2 orang saja.

Berikut cuplikan dari sebagian siaran pers PPI tentang tanya-jawab yang terjadi antara delegasi DPR-RI bareng DIN, yang diambil dari Tempo.co. Selengkapnya, silakan anda meng-klik link yang saya sertakan pada akhir tulisan ini.

Menurut anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia pada Berlin, Alavi Ali, yang menghadiri pertemuan, selesainya paparan terselesaikan, DIN mempersilakan anggota Badan Legislasi menanyakan hal-hal yang kurang terperinci. Pertanyaan pertama pun dilempar seorang anggota Badan Legislasi.

Pertanyaan pertama mereka artinya, ''Bagaimana kalau terjadifailureatau proyek yang gagal, siapa yang disalahkan'', ujar Alavi menirukan pertanyaan salah seorang anggota Dewan.

DIN menjawab singkat, pada Jerman, apabila terjadi kegagalan, tidak terdapat yang disalahkan. Tidak terdapat istilahhuman error. Bagi Jerman, standardisasi yang terdapat sudah sempurna. Jika kurang, standardisasi akan diperbarui secara otomatis.

Lalu, suasana sebagai kikuk, sebab pertanyaan pertama diulang hingga tiga kali oleh anggota Badan. Tidak terdapat umpan balik lain soal paparan dari anggota Badan Legislasi. Mereka hanya bertanya hal yang sama, ujar Alavi.

Bahkan, pada pertanyaan keempat, seorang anggota Badan Legislasi kembali menanyakan persoalan yang sudah dijelaskan. Apa fungsi DIN? ujar Alavi menirukan salah satu pertanyaan anggota Badan Legislasi. DIN tampak resah menghadapi pertanyaan anggota DPR yang satu ini. Sebab, fungsi DIN sudah dijelaskan pada awal paparan.

Proses tanya-jawab berlangsung hingga pukul 12.00. Semua anggota Badan Legislasi melempar pertanyaan. Dua anggota Badan Legislasi aktif, lainnya pula bertanya meski satu kali, ujar Alavi. Sementara itu, 2 anggota Badan Legislasi wanita tampak kurang aktif. "Anna (Anna Muawanah dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa) tidak ikut masuk ke ruang kedap. Sedangkan anggota Badan Legislasi wanita lainnya sibuk bareng ponselnya," ujar Alavi.

*

Bagaimana? Memalukan sekali, bukan?

Mungkin sekali, selesainya program pertemuan itu,  para pejabat DIN itu masih terus resah. Mereka bertanya-tanya pada dalam hati, Jangan-jangan yang tiba ini sebenarnya bukan anggota parlemen, akan tetapi para idiot. Sebab, kalau benar anggota parlemen, masa sedemikian bodohnya? Atau, Oh, ternyata, orang ndeso pun dapat sebagai anggota parlemen pada Indonesia!

Berikut link dari Tempo.co, untuk anda yang ingin membaca beritanya secara lengkap:

https://www.tempo.co/read/news/2012/11/21/078443176/PPI-Berlin-Bongkar-Kejanggalan-Studi-Banding-DPR

https://www.tempo.co/read/news/2012/11/21/078443107/Plesir-ke-Jerman-Baleg-DPR-Dianggap-Salah-Alamat

https://www.tempo.co/read/news/2012/11/21/078443122/Plesir-ke-Jerman-Anggota-DPR-Keliru-Bertanya

***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here